Mualaf

Clarence Jack Ellis, Ketika Sang Wali Kota AS Menemukan Islam

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Administrator Wednesday, 20 January 2010 20:28

Kebenaran harus ditegakkan, apa pun risikonya.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, ''Tidak ada agama tanpa akal.'' Hadis ini secara tersirat menegaskan bahwa suatu agama, terlebih agama Islam, harus dipahami inti sari ajarannya dengan cara berpikir. Segala sesuatu yang ada di alam ini merupakan buah karya Allah SWT, sang pencipta alam semesta. Keberadaan alam ini pun adalah wujud dari keberadaan-Nya.

Tak salah bila kemudian banyak orang yang berusaha mempelajari agama dengan sungguh-sungguh karena mereka akan menemukan hakikat jati dirinya dan Tuhan sang Pencipta. Ini pulalah yang dialami dan dilakukan mantan wali kota Macon, sebuah negara bagian di Georgia, Amerika Serikat, Clarence Jack Ellis. Ia menemukan jati diri yang sesungguhnya setelah benar-benar mempelajari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

''Mengapa seseorang beragama Kristen? Itu karena Anda merasa melakukan sesuatu yang benar. Bagi saya, hal itu bukan persoalan besar. Namun, banyak orang yang ingin tahu apa yang Anda yakini. Bagi saya, Islam adalah agama yang cocok buat saya. Saya seperti kembali ke akar saya setelah bertahun-tahun melakukan perenungan,'' kata Ellis kepada surat kabar Boston Herald saat ditanya mengapa ia memilih pindah ke agama Islam, sebagaimana dikutip  Islamonline .

Ellis mengatakan, ia mempelajari Alquran selama bertahun-tahun. Dan, ia menemukan tujuan hidupnya dalam Islam. Terlebih lagi setelah ia berkunjung ke Senegal. Menurut Ellis, nenek-nenek moyangnya sudah memeluk agama Islam sebelum mereka dibawa ke Amerika Utara sebagai budak.

Ellis mengaku jiwanya terasa tenteram dan damai setelah masuk Islam. Ia juga merasa tidak perlu menyembunyikan keislamannya dari publik yang telah memilihnya sebagai wali kota Macon walaupun keputusan memeluk Islam adalah keputusan yang sangat pribadi sifatnya.

Pria kelahiran Macon, 6 Januari 1946, ini masuk Islam pada Desember 2007 lalu. Sebagai seorang pejabat negara, keislaman Ellis mengundang perhatian publik Amerika. Namun demikian, ia sudah bulat pada keputusannya.

''Ini adalah keputusan yang sangat personal, tapi saya juga memahami bahwa saya seorang publik figur. Sebagai wali kota, saya pikir masyarakat berhak tahu apa yang saya yakini sebagai orang yang beriman. Iman yang saya yakini sekarang adalan Islam,'' jelas Ellis.

Ellis yang semula menganut agama Kristen hijrah menjadi seorang Muslim menjelang akhir kepemimpinannya. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah upacara kecil di Senegal, Afrika Barat. Setelah masuk Islam, Ellis mengurus status hukum perubahan namanya dari Clarence Jack Ellis menjadi Hakim Mansour Ellis. Ia tetap menggunakan nama keluarganya atas permintaan kedua putrinya.

Keislaman Ellis menghiasi berbagai media massa di AS dan sejumlah media internasional. Tak heran bila keputusannya itu menjadi buah bibir. Karena, sejak memutuskan masuk Islam, ia masih menjabat sebagai wali kota Macon.

Setelah menjadi seorang Muslim, ayah dari lima anak itu mulai membiasakan diri untuk menunaikan shalat lima waktu dan secara rutin berkunjung ke Islamic Center di Bloomfield Road. Ellis mengaku bangga dengan kebebasan beragama di AS. ''Kami meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, seperti kami meyakini Musa sebagai seorang nabi,'' ujar Ellis.

Karier
Peraih gelar sarjana muda di bidang sastra dari Saint Leo College di Florida, AS, ini menjabat sebagai wali kota Macon selama dua periode, sejak 14 Desember 1999 hingga Desember 2003. Kemudian, ia terpilih kembali dan menjabat hingga Desember 2007. Ia tidak bisa menjabat lagi sebagai wali kota karena sudah terpilih sebanyak dua kali masa jabatan yang lamanya empat tahun.

Ellis adalah warga kulit hitam pertama yang terpilih sebagai wali kota Macon sepanjang 176 tahun sejarah kota itu. Ia menjadi wali kota Macon ke-40 yang berhasil terpilih dua kali berturut-turut.

Selama menjabat sebagai wali kota Macon, Ellis dikenal sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan kota itu. Ia menggunakan bantuan dari negara bagian dan Federal untuk membantu latihan kerja bagi anak-anak muda, membuat program pengarahan, penyuluhan, program usai sekolah, dan program untuk mengurangi jumlah kriminalitas di kota itu.

Dengan dana bantuan tersebut, ia juga mencanangkan program perumahan rakyat. Pada saat ia memerintah, telah dibangun lebih dari 200 unit rumah baru dengan harga terjangkau dan lebih dari 100 rumah susun di pusat kota Macon. Pada masa pemerintahannya, Macon ditetapkan sebagai kota unggulan oleh Asosiasi Kotamadya Georgia serta dianuegrahi The City Livability Award oleh Konferensi Wali Kota se-AS. Bahkan, mantan ibu negara Laura Bush menunjuk Macon sebagai cagar komunitas Amerika.

''Saya tetap berbagi dengan keluarga besar saya, komunitas Macon yang mendukung saya ketika saya masih menjadi seorang Kristiani dan masih memercayai saya hingga kini. Saya masih orang yang sama meski saya mengganti nama saya,'' tukas Ellis.

Sepanjang kariernya, sebagaimana tercatat dalam situs pribadinya, Macon tercatat pernah bertugas di dinas kemiliteran AS selama dua tahun dan ikut dikirim ke Perang Vietnam dalam Divisi ke-101 Angkatan Udara AS dengan pangkat sersan.

Atas jasa-jasanya di kemiliteran, Ellis mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain tiga penghargaan  Bronze Star , medali  Army Commendation for Valor and Heroism , serta penghargaan  Purple Heart karena luka-luka yang dialaminya dalam perang Vietnam.

Jadi Duta Kehormatan Uganda

Kiprah Clarence Jack Ellis saat menjabat sebagai wali kota tidak hanya sebatas urusan yang terkait dengan kota yang dipimpinnya, tetapi juga sampai ke tataran internasional. Saat memerintah, Ellis membina hubungan dengan beberapa kota internasional di Rusia, Afrika, dan Korea. Hubungan yang dibina antara Macon dan kota-kota dunia tersebut mengarah kepada bentuk kerja sama  sister city . Dengan mengatasnamakan Konferensi Wali Kota se-AS, Konferensi Nasional Wali Kota Kulit Hitam, dan Konferensi Wali Kota sedunia, Ellis memimpin beberapa delegasi ke sejumlah negara Afrika, termasuk Ethiopia, Afrika Selatan, Ghana, Senegal, Uganda, dan Kamerun.

Lawatan-lawatan yang kerap ia lakukan ke sejumlah negara Afrika ini ternyata menarik perhatian Pemerintah Uganda. Karena itu, tak mengherankan jika ia kemudian diangkat menjadi duta kehormatan bagi Uganda pada April 2007 lalu. Posisi sebagai duta kehormatan ini akan dijalankannya setelah masa jabatannya sebagai wali kota Macon berakhir.

Ellis berharap bisa menggunakan posisi kehormatan itu untuk mempromosikan Uganda di wilayah tenggara Amerika Serikat. Seorang duta kehormatan biasanya mengemban tugas untuk membantu warga negara dari negara yang mereka wakili dalam menyelesaikan semua bentuk persoalan yang dihadapi mereka di negara di mana mereka tinggal.

Dukung Hugo Chavez
Pada saat masih menjabat, Ellis juga pernah mendapat sorotan tajam publik Amerika menyusul sikapnya yang dengan terang-terangan mendukung pemerintahan Presiden Venezuela Hugo Chavez. Atas sikapnya ini, Ellis tidak hanya didemo oleh warga kota Macon, tetapi juga mendapat kecaman dari para pemimpin lokal lainnya di Negeri Paman Sam.

Mantan calon wali kota saat itu, David Corr, mengatakan, pernyataan wali kota merupakan sebuah bentuk kemarahan. ''Kita harus mengutuk Chavez sebagai musuh kebebasan.''

Sementara itu, seorang anggota senat Partai Republik dari wilayah pemilihan Macon, Allen Peake, menilai bahwa tindakan yang dilakukan Ellis sebagai tindakan yang mencemarkan nama kota Macon. ''Saya pikir, itu negatif bagi kami,'' ujarnya kepada  The Macon Telegraph . ''Kita perlu melakukan hal-hal yang bisa mengembalikan citra positif Macon,'' tambahnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan Agustus 2007 silam. Sebagaimana pemberitaan yang dilansir situs  foxnews , wali kota Jack Ellis telah mengirimkan surat dukungan yang disampaikan melalui kurir kepada Presiden Chavez. Dalam suratnya, Ellis menuliskan pesan bahwa para pemimpin lokal di AS dapat berdiri bersama-sama pemimpin Venezuela meskipun perbedaan pendapat terjadi di tingkat pemerintah pusat.

Ia tak peduli tudingan miring yang ditujukan padanya. Baginya, sebuah kebenaran harus ditegakkan, apa pun risikonya. dia/sya/taq

Biodata:

Nama Lengkap: Clarence Jack Ellis
Nama Muslim: Hakim Mansour Ellis
TTL: Macon, 6 Januari 1946
Masuk Islam: Desember 2007
Jabatan: Mantan Wali Kota Macon, AS (1999-2007)
Penghargaan:  Bronze Star, Medali Army Commendation for Valor and Heroism, Purple Heart , dan Duta Kehormatan Uganda

(Sumber: www.republika.co.id, 26 November 2009)
 

Kegundahan Hati Charles Le Gai Eaton: Kisah Islamnya Sang Diplomat Inggris

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Administrator Wednesday, 20 January 2010 20:27



EMEL.COM
Charles Le Gai Eaton, diplomat Kerajaan Inggris, memutuskan memeluk Islam pada 1951.

Ia mengenal kata 'Tuhan' untuk pertama kalinya dari pengasuh anak yang bekerja di rumahnya.

Charles Le Gai Eaton hanyalah sebagian kecil dari jajaran diplomat Kerajaan Inggris yang memilih Islam sebagai jalan hidup. Ia memutuskan memeluk Islam pada 1951, setelah menempuh pencarian yang panjang. Sejak saat itu dia menyandang nama baru Hassan Abdul Hakeem. Namun, dalam berbagai kesempatan ia kerap menggunakan nama Hassan Le Gai Eaton.

Ia lahir di Swiss pada 1921, saat perjanjian damai untuk mengakhiri Perang Dunia pertama ditandatangani. Meski lahir di Swiss, namun ia bukan orang Swiss. Kedua orang tuanya berkebangsaan Inggris. Ayah Eaton adalah seorang tentara Inggris yang dikirim ke Swiss. Mereka adalah pemeluk Kristen. Kendati demikian, Eaton tumbuh dan dibesarkan sebagai seorang agnostik oleh orang tuanya.

Ia mengenyam pendidikan di Charterhouse dan King's College, Cambridge. Di sana, ia bekerja selama beberapa tahun sebagai pengajar dan jurnalis di Jamaica dan Mesir, sebelum akhirnya memutuskan bergabung dengan British Diplomatic Service (Dinas Diplomasi Inggris). Dia juga pernah menjadi konsultan Pusat Budaya Inggris di London.

Di negara asalnya, Eaton dikenal luas berkat karya-karya tulisnya yang indah, puitis, dan bagus. Buku-bukunya antara lain  Islam and the Destiny of Men (Islam dan Tujuan Manusia),  King of the Castle (Raja Istana), dan  Remembering God (Mengingat Tuhan). Buku-buku karya Charles Le Gai Eaton itu telah mengubah hidup beberapa orang. Bahkan, bukunya juga memegang rekor tertinggi di bidang ilmu pengetahuan dan literatur.

Surat kabar  The Sunday Times edisi Februari 2004 dalam sebuah artikelnya menulis bahwa tulisan-tulisan mantan diplomat Inggris ini banyak menginspirasi masyarakat non-Muslim Inggris untuk masuk Islam. Eaton menerima surat dari banyak orang yang tidak setuju dengan Kristen yang semakin kontemporer dan mencari agama lain yang tidak begitu berkompromi dengan kehidupan modern.

Perkenalan Eaton dengan agama Islam terjadi begitu saja, tanpa ia sadari. Saat itu usianya masih belasan tahun. Ia mengenal Islam dari seorang wanita muda yang dipekerjakan oleh ibunya sebagai pengasuh anak. Pengasuhnya ini, terang Eaton sebagaimana dilansir situs  Islamreligion, memiliki ambisi menjadi seorang misionaris di Arab Saudi.

''Dia kerap menyebut bahwa dirinya harus menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat, yakni orang-orang yang disebutnya sebagai kafir Muslim,'' terang Eaton menjelaskan tentang sikap pembantunya itu.

Suatu hari, kata Eaton, pengasuhnya ini mengajaknya jalan-jalan hingga mereka melewati penjara Wandsworth (saat itu keluarganya tinggal di wilayah Wandsworth, selatan London). Sepanjang perjalanan sang pengasuh mengatakan kepada Eaton berbagai hal yang menakutkan mengenai keberadaan seseorang berambut merah di langit sana, yang sewaktu-waktu siap menembak dirinya jika ia nakal.

Kisah mengenai perjalanan itu kemudian ia sampaikan ke ibunya, setelah tiba di rumah. ''Aku tidak ingat apa yang dikatakannya untuk menghibur saya, tapi gadis itu segera diberhentikan. Namun, inilah kali pertama saya mendengar mengenai keberadaan Tuhan,'' paparnya.

Peristiwa tersebut mendorong orang tuanya untuk mengirim Eaton ke sekolah berasrama, Charterhouse. Di sekolah barunya ini, ia banyak mendapatkan pengajaran tentang ajaran Kristen dan kitab suci mereka. Di sinilah ia mulai secara intens bersentuhan dengan dogma-dogma agama. Pada akhirnya, Eaton mulai merasakan ketertarikan terhadap ilmu filsafat. Secara rutin, ia mulai membaca karya-karya Descartes, Kant, Hume, Spinoza, Schopenhauer, dan Bertrand Russell, atau membaca karya-karya yang menjelaskan ajaran-ajaran mereka.

Setelah menamatkan pendidikan di Charterhouse, ia mendaftar di King's College, Cambridge. Saat menempuh pendidikan di King's College ini, ia berkenalan dengaan novelis Inggris, Leo H Myers. Karya-karya Myers banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Hindu Vedanta. Namun, Perang Dunia Kedua (PD II) yang berkecamuk pada 1939, memaksanya meninggalkan bangku sekolah dan ikut program wajib militer. Ia kemudian dikirim ke Akademi Militer Kerajaan di Sandhurst. Pendidikan militer ini ia tempuh selama lima bulan.

Selepas dari kemiliteran, Eaton mulai menulis. Banyak hal yang ia tulis saat itu, di antaranya mengenai ajaran Vedanta, Taoisme, dan Budhisme Zen. Karya-karya awalnya ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran penulis-penulis Barat, termasuk Leo Myers. Tulisan-tulisannya ini kemudian ia terbitkan sebagai sebuah esai dengan judul  The Richest Vein.

Saat  The Richest Vein diluncurkan, Eaton telah meninggalkan Inggris menuju Jamaica. Salah seorang teman sekolah, menawari Eaton sebuah pekerjaan sebagai penulis di Jamaica. Namun, pekerjaan tersebut hanya dijalaninya selama 2,5 tahun. Karena alasan keluarga, ia memutuskan kembali ke Inggris.

Belajar Islam

Saat kembali ke Inggris ini Eaton menerima dua buah surat dari penggemarnya yang diketahuinya kemudian hari juga banyak membaca karya-karya Rene Guenon, seorang penulis sufisme Islam. Karena tertarik pada isi surat tersebut, kemudian ia memutuskan untuk bertemu dengan mereka. ''Mereka mengatakan bahwa saya bisa menemukan apa yang jelas-jelas saya cari selama ini, tidak di India atau Cina tetapi dalam dimensi sufi Islam,'' jelasnya mengenai ungkapan penggemarnya itu.

Maka sejak saat itu, Eaton mulai membaca tentang Islam dengan semakin meningkat minatnya terhadap sufisme Islam. Perubahan yang terjadi padanya ini mendapat reaksi keras dari seorang teman dekatnya yang bekerja di Timur Tengah. Sang sahabat menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keinginan Eaton untuk mendalami Islam. Sahabatnya ini banyak bercerita mengenai ajaran Islam yang tidak rasional, erat dengan kekerasan, dan sejumlah keburukan lainnya yang banyak disematkan oleh dunia Barat.

Pada saat bersamaan, perubahan juga terjadi dalam kehidupan ekonomi Eaton. Sekembalinya di Inggris, ia tidak memiliki pekerjaan dan hidup dalam kemiskinan. Ia mengajukan surat lamaran tiap kali membaca iklan lowongan kerja. Salah satunya adalah surat lamaran yang ditujukan kepada Universitas Kairo untuk posisi asisten dosen jurusan Sastra Inggris. ''Ini hal terbodoh yang pernah aku lakukan,'' ujarnya membatin.

''Bagaimana mungkin aku yang lulusan Cambridge jurusan sejarah dan buta sama sekali mengenai sastra sebelum abad ke-19 bisa diterima. Karena bagaimanapun mereka pasti akan mempekerjakan seseorang yang memiliki kualitas,'' ungkapnya.

Akhirnya pada Oktober 1950, saat usianya menginjak 29, Eaton berangkat ke Kairo. Di antara rekan-rekan kerjanya di Universitas Kairo adalah seorang Muslim berkebangsaan Inggris, Martin Lings, yang telah lama menetap di Mesir. Lings merupakan salah seorang teman Rene Guenon yang juga merupakan teman dari dua orang penggemar karya-karyanya. Tali pertemanan pun kemudian terjalin di antara Eaton dan Lings. Di luar waktu kerja, Eaton kerap berkunjung ke rumah Lings yang berada di luar Kota Kairo.

Dari interaksi yang kerap dilakukannya bersama Lings, ia banyak mengetahui mengenai ajaran Islam lebih jauh. Ketertarikannya terhadap Islam semakin menggebu-gebu, setiap kali ia menyampaikan mata kuliah di hadapan para mahasiswanya. Kendati demikian, keragu-raguan masih menghinggapi dirinya.

''Padahal, saat itu saya mulai benar-benar bisa menikmati kehidupanku di Kairo. Tapi, satu pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban tegas tengah menanti di hadapanku di saat yang bersamaan,'' ujarnya.

Setelah berpikir masak-masak, Eaton akhirnya datang menemui rekan kerjanya, Martin Lings. Di hadapan rekannya itu, ia menumpahkan seluruh kegundahan hatinya dan meminta Lings untuk membimbingnya membaca kalimat Syahadat, sebagai tanda bahwa ia menerima Islam sebagai agamanya yang baru. ''Meskipun pada awalnya ragu-ragu, ia melakukannya,'' kenang Eaton.

Rasa takut sekaligus bahagia, ungkap Eaton, menjalari sekujur tubuhnya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, sambung dia, dirinya memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Maka resmilah ia menjadi seorang Muslim bertepatan dengan bulan Ramadhan 1951. Keesokan harinya, terang Eaton, ia memutuskan untuk ikut berpuasa. ''Sesuatu yang saya tidak pernah membayangkan akan saya lakukan.''
Redaksi - Reporter
Red: Taqi
Reporter:
Nidia Zuraya

(Sumber: www.republika.co.id, 19 Januari 2010)
 

Bruno Metsu Masuk Islam: Terpesona Pada Komunitas Islam Afrika

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Written by Administrator Wednesday, 20 January 2010 20:10


FLICKR


Bagi para penggemar sepak bola, tentu masih ingat pada aksi menawan el-Hadji Diouf dkk, pemain Timnas Senegal, saat menaklukkan Juara Dunia Prancis 1998 dan Juara Eropa 2000, pada pertandingan pembuka Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan. Ketika itu, Senegal unggul 1-0 atas Zinedine Zidane dkk.

Tak ada yang menduga sebelumnya, bila Senegal mampu menaklukkan Ayam Jantan--julukan Timnas Prancis--di kejuaraan dunia itu. Alih-alih menang, bisa berpartisipasi saja dalam kejuaraan itu, sudah membuat bangga publik Senegal.

Namun, dengan semangat membara, putra-putra dari daratan Afrika itu mampu menunjukkan 'tajinya' hingga berhasil menggagalkan Prancis lolos dari grup A yang dihuni Denmark, Senegal, Uruguay, dan Prancis.

Sebaliknya, tiga angka yang diraih atas kemenangan melawan Prancis, serta hasil imbang melawan Denmark dan Uruguay, menempatkan Senegal sebagai Runner-Up Grup A dengan poin lima, dan berhak lolos ke putaran 16 besar atau perdelapan final.

Keganasan anak-anak Senegal di putaran pertama Piala Dunia 2002 itu, seakan membuka mata dunia. Mereka tak berani lagi memandang sebelah mata El-Hadji Diouf dkk. Swedia yang mereka jumpai di babak perdelapan final pun, gigit jari dibuatnya. Hendrik Larsson dkk dibuat bertekuk lutut, setelah dua gol yang dilesakkan Henri Camara, pada menit ke-37 dan menit ke-103 di masa perpanjangan waktu. Kedudukan menjadi 2-1 untuk Senegal. Senegal pun menembus perempat final. Di babak ini, mereka berjumpa dengan Turki dan akhirnya kalah dengan skor 0-1 berkat gol Ilhan Mansiz.

Kendati gagal pada putaran berikutnya, namun keberhasilan mereka menembus perempat final Piala Dunia 2002 itu, membuat pasukan Senegal makin ditakuti. Dan para pendukung (suporter) Senegal pun memberikan sambutan hangat dan menganggap mereka sebagai pahlawan Senegal. Mereka pulang dengan kepala tegak.

Dari putaran final Piala Dunia 2002 ini, ada dua nama yang langsung melejit atas prestasi yang ditorehkan Senegal pada kejuaraan itu, yakni El-Hadji Diuof, sang pencetak gol ke gawang Prancis yang dikawal Fabian Bartez, dan Bruno Metsu, sang arsitek (pelatih). Dan sejak saat itu, nama Bruno Lucas Felix Metsu makin populer. Bruno Metsu dianggap sebagai seorang pelatih hebat, karena mengantarkan Senegal meraih prestasi tertinggi Senegal di dunia sepak bola. Dan pencapaian ini, juga menjadi pencapaian tertinggi Bruno Metsu sepanjang kariernya.

Metsu bukanlah pemain dan pelatih terkenal. Ia berkarier lebih dari 30 tahun, mulai dari pemain hingga kini sebagai pelatih sepak bola. Ia pernah bermain di klub papan bawah Prancis dan Belgia seperti Dunkerqe, Nice, Lille, dan Anderlecht. Sejak 1988, ia menangani klub kelas dua Prancis, Beauvais, kemudian Lille, Valenciennes, Sedan, dan Valence. Sebelum menangani Senegal, ia sempat menangani negara kecil Afrika, Guinea, selama enam bulan.

Meski sukses melatih timnas Senegal, bukan berarti Metsu tidak menemui hambatan. Pertama kali tiba d Senegal, menurutnya, sama seperti pertama kali menangani klub Sedan. Semua orang menganggapnya sebagai makhluk asing dari luar angkasa. ''Mestinya, sebelum menilai seseorang, beri dia waktu untuk bekerja. Tapi biarlah, toh semua pun kemudian tahu apa yang telah saya perbuat,'' katanya.

Namun, nyatanya dalam waktu singkat Metsu berhasil menggaet simpati para pemain dan official tim Senegal. Bukan dengan pendekatan hierarkis dan militeristik, melainkan dengan pola keterbukaan dan saling menyayangi. Kepada para pemain, berkali-kali ia menegaskan, ''Aku bukan polisi, tapi pelatih. Dan kalian bebas mengekspresikan apa saja.''

Human interest
Dengan pendekatan itu, Metsu berkeliling ke sejumlah klub papan bawah Prancis, dan berhasil membawa pulang para pemain yang sebelumnya enggan bergabung di tim nasional. Dalam menumbuhkan motivasi, disiplin, dan tanggung jawab, dia tidak pernah melepaskan suasana rileks, senda gurau, dan kekeluargaan. Apa pun persoalan yang dihadapi, selalu dipecahkan bersama.

Empati dan human interest. Itulah yang dirasakan asisten pelatih Jules Francois Bocande, dan para pemain Senegal, dari kepribadian Metsu. ''Bukan soal skill (keahlian), melainkan mentalitas, solidaritas, dan rasa kebersamaan, yang hilang selama saya jadi pemain nasional. Metsu berhasil menumbuhkannya,'' kata Bocande.

Henri Camara, penentu kemenangan Senegal atas Swedia pada laga perdelapan final Piala Dunia 2002, juga mengakuinya. ''Dialah pelatih yang tahu bagaimana menjadi teman sejati para pemain, bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri,'' ujarnya.

Berbeda dengan para pelatih tim lain yang terlihat tegang serius, dan kerap berteriak dalam balutan stelan jas dan dasi saat melihat anak asuhnya berlaga, tampilan Metsu sangat santai. Dengan t-shirt yang kerap ia kenakan dan rambut panjang yang tergerai, sosoknya lebih layak disebut sebagai seniman. Ia mengingatkan kita pada sosok legenda musik rock, Jim Morisson.

Terhadap rambut panjangnya, seorang wartawan pernah berkelakar dalam jumpa pers seusai kemenangan Senegal atas Prancis. ''Apa hubungan kemenangan ini dengan rambut panjang Anda?'' tanya sang wartawan. ''Rambut saya tidak lebih panjang dari kemenangan yang akan dicapai para pemain,'' jawab Metsu rileks, sambil menggeraikan rambut ikalnya.

Masuk Islam
Filosofi kepelatihan yang ada dalam diri Metsu sebenarnya kian tumbuh seiring dengan keterpesonaannya terhadap Benua Afrika. Pria yang lahir di Coudekerque-Village, Prancis, pada 28 Januari 1954 ini sangat mengagumi budaya Afrika. ''Ada suatu misteri, nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, persahabatan, sesuatu yang sudah hilang di Eropa,'' katanya.

Metsu mengatakan, di Afrika pintu selalu terbuka. Sementara di Eropa, pemain hanya akan mendatangi pelatih saat punya masalah. Sedangkan di Afrika, mereka akan mendatanginya kapan pun, untuk menyaksikan bagaimana sang pelatih bekerja. Pesona Afrika itu sangat menyentuh Metsu. ''Aku ini kulit putih berhati negro,'' tukasnya bangga.

Boleh jadi, sentuhan nilai-nilai Afrika ini pula yang membuatnya memeluk Islam pada 24 Maret 2002. Asal tahu saja, lebih dari 90 persen penduduk Senegal adalah pemeluk Islam. Setelah masuk Islam, ia kemudian mengganti namanya dengan Abdul Karim.

Abdul Karim sendiri memang tak pernah mengungkapkan alasannya memeluk Islam. Namun, pada saat bersamaan, ia juga mengikrarkan pernikahannya dengan gadis Senegal, Rokhaya Daba Ndiaye. Menurut harian lokal Senegal, Him Soleil, pesta pernikahannya berlangsung meriah dengan menggunakan tradisi setempat. Harian tersebut juga menuliskan bahwa Abdul Karim memberikan sebuah limousin mewah beserta uang tunai enam ribu euro sebagai mas kawin.

Bersama istri para pemain Senegal, Rokhaya selalu setia memberi semangat pada tim nasional Senegal setiap kali mereka bertanding. Seperti pada ajang Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Tidak seperti pelatih tim negara lain yang melarang para pemainnya untuk mengajak serta para istri mereka, Abdul Karim justru menempatkan para istri dari skuad tim nasional Senegal dalam satu hotel yang sama, tempat mereka menginap selama perhelatan Piala Dunia 2002.

Usai mengukir prestasi di Piala Dunia 2002, sejumlah klub dan negara berebut meminangnya. Padahal, kontraknya dengan Senegal saat itu belum berakhir. Mendengar kabar tersebut, alhasil sejumlah pemain timnas Senegal berkali-kali mendatangi Abdul Karim untuk mencegah kepindahannya. Inilah yang membuat Abdul Karim merasa berat hati untuk meninggalkan Senegal.

Namun, akhirnya ia tetap memutuskan pindah dan pilihannya jatuh ke klub sepak bola asal Uni Emirat Arab (UEA), Al-Ain. Selain Al-Ain, ia juga tercatat pernah melatih klub Qatar, Al-Gharafa, selama dua musim (2004-2006). Mengenai keputusannya ini Abdul Karim mengungkapkan sebuah pesan: ''Biarkan orang menilai apa pun ketika pertama kali Anda datang untuk menangani sebuah tim. Cukuplah ketika Anda hendak meninggalkannya, semua orang mengenang prestasi yang pernah Anda ukir.''

Setelah kontraknya dengan Al-Gharafa berakhir, Abdul Karim mendapat tawaran untuk melatih tim nasional UEA. Namun pada September 2008, secara mengejutkan ia mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pelatih UEA. Sejumlah media mengabarkan bahwa pelatih asal Prancis itu putus asa setelah UEA mengalami dua kekalahan pada pertandingan pembukaan mereka di kualifikasi akhir zona Asia untuk Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Kini ia dipercaya oleh Federasi Sepak Bola Qatar (QFF) untuk melatih tim nasional Qatar hingga 2014 mendatang. Dengan capaian prestasi yang pernah ia torehkan saat mengarsiteki tim nasional Senegal, tak mengherankan jika publik Qatar menaruh harapan besar pada Abdul Karim untuk mewujudkan impian lolos ke putaran final Piala Dunia 2014 di Brasil.

Biodata
Nama Lengkap : Bruno Lucas Felix Metsu
Tanggal Lahir : 28 Januari 1954
Tempat Lahir : Coudekerque-Village, Nord, Prancis
Awal Karier : Pemain Dunkerque
Karier Senior :
1963-1970 ==> Dunkerque
1970-1973 ==> RSC Anderlecht
1973-1975 ==> Valenciennes
1979-1981 ==> Lille
1981-1982 ==> Nice
1982-1984 ==> Roubaix
1984-1987 ==> Beauvais Oise

Karier Kepelatihan:
1987-1992 ==> Beauvais Oise
1992-1993 ==> Lille
1993-1994 ==> Valenciennes
1995-1998 ==> CS Sedan Ardennes
1998-1999 ==> ASOA Valence
2000   ==> Guinea
2000-2002 ==> Senegal
2002-2004 ==> Al-Ain
2005-2006 ==> Al-Gharrafa
2006   ==> Al-Ittihad
2006-2008 ==> UEA
2008-   ==> Qatar
Redaksi - Reporter
Red: Taqi
Reporter: Nidia zuraya
(Sumber: www.republika.co.id, 11 Januari 2010)
   

Margaret dan Putrinya, Nyssa

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Sunday, 01 November 2009 16:52 Written by Administrator Friday, 31 July 2009 09:40

Syamsi AliDia menemukan Islam hanya karana melihat seorang teman Muslim-nya, yang berpaikan sopan dan benar-benar punya sopan-santun

Siang kemarin kelas di Islamic Forum for non Muslims masih agak sepi. Selain memang karena memang banyak yang lagi liburan akhir tahun, juga karena beberapa kegiatan Islam lainnya di kota New York, sehingga ada beberapa murid berhalangan hadir. Tapi Margaret, seorang Ibu muda warga Amerika, dan anaknya Nyssa, berumur 11 tahun telah tiba lengkap dengan buku catatannya.

...>>>

 

Idris Tawfiq, Mantan Pastor yang Memilih Islam

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Wednesday, 05 August 2009 13:04 Written by Administrator Friday, 31 July 2009 09:32

''Allah menyeru manusia ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).'' (QS Yunus: 25)

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan hidayah (jalan kebaikan) kepada siapa saja yang dikehendakinya untuk memilih Islam. Tak peduli siapa pun. Baik dia budak, majikan, pejabat, bahkan tokoh agama non-Islam sekalipun.

Selanjutnya...>>>

   

Page 5 of 7


Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 94

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 100

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 94

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 100

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 94

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 100

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 94

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 100

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 94

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 100

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 94

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 100

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 94

Warning: Illegal string offset 'active' in /home/mjhdnet/public_html/templates/beez/html/pagination.php on line 100