Mualaf

Iris Rengganis Makin Mantap dalam Renungan di Makkah

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Friday, 22 January 2010 17:21 Written by Administrator Wednesday, 20 January 2010 20:55

Senantiasa merindukan suara azan. Baginya suara azan akan menguatkan iman.

"Ya Allah, kalau memang Islam ini agama yang harus saya anut, saya akan balik lagi ke sini."

Bisikan hati tersebut melintas di hati dr Iris Rengganis sesaat sebelum ia meninggalkan Makkah. Ketika itu, pada 1993, ia diajak ayahnya, Prof Dr dr Karnen Garna Baratawidjaja SpPD KAI FAAAAI, untuk melaksanakan umrah.

Ayahnya seorang dokter terkemuka di negeri ini, membawanya umrah sekitar satu tahun setelah anak sulungnya itu menyatakan masuk Islam di umur 34 tahun (1992).

Namun, umrah tersebut sama sekali tidak meninggalkan bekas spiritual pada diri Iris. "Bagi saya, umrah itu ibarat wisata saja. Orang-orang menangis waktu berada di Raudhah (tempat di depan makam Rasulullah di Masjid Nabawi, Madinah--Red). Tapi, saya hanya merasakan biasa-biasa saja. Mungkin karena saya belum mengerti betul tentang agama Islam, khususnya ibadah umrah. Saya lebih banyak jalan-jalan dan berbelanja. Karena itulah, sewaktu mau pulang ke Indonesia, saya berkata dalam hati, akan balik lagi ke Tanah Suci kalau memang Islam itu agama yang benar buat saya," papar wanita kelahiran Jakarta, 29 Juni 1958.

Wanita yang akrab dipanggil Iis itu butuh waktu puluhan tahun untuk memantapkan hatinya guna memeluk Islam. Sejak kecil, bersama dengan tiga adiknya yang semuanya perempuan, yakni Ambhara, Prasna Pramita, dan Farah Prashanti, hidup dalam sebuah keluarga yang berbeda agama. Ayahnya seorang Muslim, sedangkan ibunya, dr Wachjuni MHA, seorang pemeluk Kristen Protestan.

"Dari kecil, saya sudah terbiasa dengan suasana yang demikian (berbeda agama dalam satu keluarga). Dan sampai sekarang pun--ketika saya sudah menjadi Muslimah--hubungan keluarga besar tetap harmonis," ujarnya.

Rindu suara azan
Seluruh anggota keluarga dokter itu tinggal di depan Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Karena itu, sejak kecil Iris sudah sering mendengar azan maupun pengajian yang dipancarkan dari masjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan umat Islam di Jakarta Selatan itu.

"Meskipun demikian, tidak gampang bagi saya untuk menjadi Muslimah. Sebab, bagi saya, keislaman itu harus datang dari keyakinan hati. Saya tidak mau terpaksa atau setengah-setengah,"  tegasnya.

Sewaktu bersekolah di SD negeri, Iris belajar agama Islam. Namun, sewaktu bersekolah di SMP dan SMA negeri, ia belajar agama Kristen Protestan dan aktif ke gereja. "Kedua orang tua saya memberikan kebebasan kepada saya maupun adik-adik saya untuk memilih agama yang diyakini. Demikian juga ketika sudah berumah tangga, suami saya pun tidak pernah memaksa saya untuk menjadi Muslimah," ungkap Iris.

Lalu, apa yang akhirnya membawa Iris pada kesadaran untuk memilih Islam sebagai keyakinannya? "Sebetulnya lebih banyak pada pergaulan dengan teman-teman. Saya lebih senang melihat bukti nyata daripada sekadar teori atau membaca buku. Saya melihat doa teman-teman saya yang Kristen --yang taat dengan kekristenannya--dikabulkan Tuhan. Dan, saya juga melihat teman-teman saya yang keislamannya baik, doanya juga dikabulkan. Ditambah dengan keteladanan teman-teman yang takwa itu, akhirnya saya berpikir, mengapa saya tidak menjadi Muslimah," paparnya.

Bersamaan dengan berjalannya waktu, ada hal yang sangat indah setelah Iris menjadi Muslimah. "Dulu kalau mendengar azan saya sering terganggu. Berisik. Kalau tevelisi menyiarkan azan, volumenya saya kecilkan. Namun setelah menjadi Muslimah, saya selalu kangen suara azan. Dan, saya memilih RCTI karena azannya sama dengan yang sering saya dengar saat berada di Madinah (Masjid Nabawi--Red). Mendengarkan azan, bagi saya, menguatkan iman," papar ibu empat anak itu.

Haji dan Umrah
Apakah Islam memang agama yang benar dan harus dipilih oleh Iris? Allah yang Maha Mendengar bisikan hati, bahkan sesuatu yang hanya tebersit di kalbu, menjawab doa Iris. "Ternyata Allah memberikan petunjuk kepada saya bahwa Islam memang agama yang benar. Buktinya, sampai saat ini saya enam kali bolak-balik ke Tanah Suci," tegasnya atas doanya sewaktu berumrah dahulu.

Tidak hanya itu, kasih sayang Allah kepada Iris begitu besar. Ia pergi haji dan umrah itu tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. ''Saya tiga kali umrah dan tiga kali haji, semuanya gratis," kata Dokter Teladan Jakarta Selatan 1988, saat menjalankan tugas sebagai dokter Puskesmas Kelurahan Cikoko, Jakarta Selatan.

Umrah pertama pada 1993, dibayari oleh ayahnya. Kedua, pada 2000, sebagai dokter kloter haji selama 40 hari. Ketiga, pada 2002, haji dibayari oleh negara sebagai Kepala Balai Pengobatan Haji Indonesia di Madinah, selama 70 hari. Pada 2003, sepupunya menikah di Makkah, lagi-lagi dia dapat kesempatan umrah gratis.

Suatu hari, saat mengambil program S-3 di IPB, Iris mengaku sangat jenuh. "Ketika itu saya susah mikir, bete, maka saya berdoa kepada Allah bahwa saya ingin umrah," ujar Iris yang pernah bekerja di RS Haji Jakarta.

Ternyata ada yang menawari ke Tanah Suci selama 70 hari. Tapi, tidak dapat izin dari atasan, sebab ia sedang kuliah S-3. Iris pun berdoa lagi agar diizinkan oleh Allah berangkat ke Baitullah.

"Ternyata Allah menjawab doa saya. Ada perusahaan obat yang menawarkan job kepada saya untuk melakukan penelitian tentang imuno modulator selama 40 hari di Tanah Suci. Dan, saya diizinkan," tandas Iris yang baru saja meraih gelar doktor di bidang biologi dari IPB pada Juli 2009.

Jilbab
Jika ada jarak sekian puluh tahun bagi Iris untuk memantapkan hatinya memilih Islam, begitu pula dengan jilbab yang merupakan pakaian seorang Muslimah. Delapan tahun setelah mengucapkan dua kalimah syahadat, barulah wanita yang juga menjadi staf pengajar di FKUI itu mau memakai jilbab.

"Saya tidak mau memakai jilbab karena terpaksa. Kalau saya memakai jilbab, hal itu harus datang dari kesadaran dan keyakinan hati," ujar dokter internis ahli alergi itu.

Ia sempat menolak ditawari sebagai dokter kloter haji karena belum siap memakai jilbab. "Setelah merasa nyaman memakai jilbab, barulah saya mau ditawari jadi dokter kloter haji," tutur dokter yang pernah menjadi penanggung jawab mendirikan dan mengembangkan Klinik Alergi dan Klinik Edukasi Diabetes di RS Haji Jakarta.

RS Haji Jakarta, kata Iris, mempunyai posisi penting dalam perjalanan kematangan iman dan Islamnya. "Selama saya bekerja di sana, setiap pagi selalu diawali dengan doa bersama, dan siang hari seusai Shalat Zhuhur berjamaah, diisi dengan kultum (kuliah tujuh menit). Hal itu sangat membekas dalam hati saya. Boleh dikatakan saya memperoleh kemantapan iman dan Islam, termasuk mengenai busana Muslimah atau jilbab, terutama pada saat bekerja di RS Haji Jakarta. Bekerja di sana benar-benar berkah bagi saya," paparnya.

Soal kemantapan hatinya memakai jilbab itu pun punya cerita sendiri. Sepulang haji, dia bertekad memakai jilbab sampai 40 hari. "Kata orang, pulang haji sebaiknya memakai jilbab sampai 40 hari," tutur dokter yang tercatat sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan American College of Alergy sthma and Immunology (ACAAI) itu.

Ternyata respons orang-orang terdekatnya sangat positif. "Mereka bilang lebih pantas kalau saya berjilbab. Hati saya pun makin nyaman berjilbab. Pada 2000, Iris mulai mengenakan jilbab. "Saat itu hati saya sudah siap. Pakai jilbab karena kesadaran," tuturnya.

Faktor lain yang juga membuat Iris makin mantap memakai jilbab adalah pengalamannya selama menjadi dokter kloter haji bersama dengan jamaahnya yang berjumlah 450 orang. "Ketika itu, saya dekat sekali dengan para jamaah. Kalau setelah pulang haji saya lepas jilbab dan suatu saat bertemu mereka, mereka bisa goyah. Hal itu bisa menjadi kerikil keimanan mereka. Sejak itu saya memutuskan akan terus berjilbab," ujarnya.

Saking senangnya terhadap jilbab, Iris sering sekali membeli jilbab. "Jilbab-jilbab itu tidak semuanya saya pakai sendiri, sebagian saya berikan kepada orang lain."

Iris punya pendapat khusus mengenai bagaimana seharusnya menjadi seorang Muslimah. "Seorang Muslimah seharusnya memakai pakaian yang sopan, tidak merokok, dan selalu menjaga kesehatan. Allah telah memberikan kepada kita tubuh yang sehat dan segar, jangan dirusak. Seorang Muslimah harus berjalan sesuai yang Allah gariskan."

Iris selalu berupaya menjadi Muslim yang terbaik. Mengutip hadis Rasulullah SAW, dia mengatakan bahwa Muslim terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. "Hal itu saya terapkan betul dalam kehidupan saya, terutama dalam karier, baik sebagai seorang dokter maupun dosen," ujarnya.

Sebagai seorang dokter, ia berupaya menolong orang yang sakit dengan kasih sayang, tidak sekadar tugas. Bahkan, terhadap pasien-pasien tertentu yang rumahnya jauh (misalnya luar kota) dan susah untuk bertemu di tempat praktiknya, ia tak segan-segan memberikan nomor handphone-nya. Mereka bisa berkonsultasi lewat SMS maupun telepon langsung.

Sebagai seorang dosen, ia berupaya memberikan ilmu sebanyak-banyaknya dalam mengajar. Tidak setengah-setengah. Ia tak pelit mengizinkan para mahasiswanya mengopi diktat kuliahnya. Ia pun tak segan-segan memberikan konsultasi kepada para mahasiswanya kapan pun keadaan memungkinkan.

"Saya ingin para mahasiswa saya mengerti ilmu yang saya ajarkan. Saya ingin mereka mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya dari saya," tutur staf pengajar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Divisi Alergi Imunologi Klinik, FKUI/RSCM itu.

Tentu saja semua itu ada landasannya. "Dasarnya adalah ikhlas. Resep hidup saya adalah ikhlas. Dalam keadaan apa pun ikhlas. Ikhlas itu membuat kita bahagia," papar Iris Rengganis. irwan kelana

Doktor Ahli Alergi

"Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. Segala Puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tuhan Yang menciptakan tumbuh-tumbuhan dari sebutir serbuk sari hingga menjadi tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lembutnya serbuk sari yang merupakan cikal bakal tumbuhan tidak saja bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun serbuk sari ternyata dapat menjadi penyebab alergi yang mengganggu kesehatan bagi sebagian manusia. Atas dasar itulah kami terpanggil untuk melakukan penelitian di Institut Pertanian Bogor yang merupakan lembaga yang paling tepat di Indonesia untuk bidang tersebut."

Kalimat demi kalimat di atas meluncur dari bibir Iris Rengganis saat dikukuhkan sebagai doktor di Pascasarjana, Jurusan Biologi, Institut Pertanian Bogor, Juli silam. Gelar tersebut diperolehnya setelah melalui perjuangan panjang lima tahun lamanya.

"Saat ini saya bisa berdiri di sini merupakan momentum yang sangat membahagiakan, karena setelah sekian lama melakukan penelitian dengan berbagai macam kesulitan yang nyaris membuat saya kehilangan harapan, akhirnya proses tersebut dapat dilalui," tutur Iris yang sukses mempertahankan disertasi berjudul Kealergenikan Serbuk Sari Indonesia pada Manusia".

Doktor yang juga dokter internis dengan spesialisasi di bidang alergi itu memang terbilang unik. Kuliah S-1 (1977-1983) dan S-2 (1989-1994) yang diambilnya adalah di bidang kedokteran, yakni di FKUI. Ditambah dengan kuliah mengenai Konsultan Alergi Imunologi di fakultas yang sama (1994-2000).

Keahliannya sebagai dokter alergi itu justru mendorongnya untuk mengambil kuliah S-3 di Fakultas Pascasarjana IPB, bidang biologi. Di tempat itulah, ia meneliti pengaruh serbuk sari tanaman sebagai alergen (faktor yang menyebabkan alergi) pada manusia yang berada di luar rumah. Misalnya, berbagai jenis tanaman maupun rumput-rumputan.

Di Indonesia, bidang ini merupakan penelitian yang pertama tentang pengaruh tanam-tanaman dan rumputan sebagai alergen di luar rumah bagi manusia. "Tingkat kesulitannya sangat tinggi karena referensi yang ada masih sangat terbatas," tuturnya.

Objek penelitian Iris adalah beberapa jenis tanaman yang sering dijadikan pohon peneduh, antara lain akasia, pinus, dan kelapa genjah. Juga, kelapa sawit, jagung, alang-alang, dan rumput-rumputan. Hasilnya, ternyata serbuk sari tanaman-tanaman yang diteliti tersebut berpengaruh terhadap alergi.

"Yang paling besar pengaruhnya adalah alang-alang, disusul akasia. Padahal, kita tahu akasia merupakan salah satu tanaman yang dipilih oleh banyak pemda untuk penghijauan. Ini berarti para pemda harus mempertimbangkan kembali jenis-jenis tanaman yang dipilih untuk penghijauan," tegas Iris.

Di atas semua itu, ada hal yang, menurut Iris, tidak kalah pentingnya. "Penelitian tersebut membuat saya makin kagum kepada kekuasaan Allah. Dia menciptakan serbuk sari pada tumbuhan yang memberikan manfaat bagi manusia, namun juga bisa menyebabkan alergi pada sebagian manusia. Sungguh Allah Mahakuasa, dan manusia disuruh untuk terus belajar," tegasnya. ika/taq
Biodata:
Nama Lengkap :Iris Rengganis
TTL :Jakarta 29 Juni 1958
Masuk Islam : 1992
Orang Tua:
Bapak: Karnen Garna Baratawidjaja
Ibu: Wachjuni
Pekerjaan :
Staf pengajar di Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Divisi
Alergi Imunologi Klinik, FKUI
dan RSCM.

(Sumber: www.republika.co.id, 07 September 2009)
 

Ingrid Mattson, Mengenal Islam Melalui Seni

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Friday, 22 January 2010 17:19 Written by Administrator Wednesday, 20 January 2010 20:54

Nama Ingrid Mattson sempat menjadi topik pembicaraan hangat di berbagai media Barat ketika namanya masuk dalam daftar salah satu tokoh yang diundang pada inaugurasi Barack Obama setelah kandidat Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat itu menang dalam pemilu.

Sebagaimana dilansir kantor berita Associated Press (AP), Mattson yang menjabat presiden Komunitas Islam Amerika Utara (ISNA) merupakan salah satu pemimpin agama yang akan berbicara pada acara doa yang digelar di Cathedral Nasional di Washington DC sehari setelah pelantikan Obama sebagai presiden AS ke-44. Undangan yang ditujukan kepada Mattson ini menuai kontroversi publik Amerika. Sebab, yang bersangkutan dicurigai jaksa federal terkait dengan jaringan teroris. Seperti diketahui, pada Juli 2007, jaksa federal di Dallas, mengajukan tuntutan kepada ISNA karena diduga memiliki jaringan dengan Hamas organisasi Islam di Palestina yang dikelompokkan Pemerintah AS sebagai organisasi teroris.

Namun, baik Mattson maupun organisasinya tidak pernah dihukum. Jaksa hanya menyatakan memiliki bukti-bukti dan kesaksian yang dapat menghubungkan kelompok tersebut ke Hamas dan jaringan radikal lainnya. Sebelumnya, Muslimah kelahiran Kanada tahun 1963 ini juga pernah membuat kejutan dengan melakukan pertemuan dengan pejabat tinggi Pentagon selama pemerintahan Bush. Dia juga hadir pada misa Konvensi Nasional Partai Demokrat di Denver saat Obama mencalonkan diri sebagai presiden.

Pemerintah AS dan ISNA sebenarnya memiliki hubungan kerja sama yang baik. Kelompok tersebut memberikan latihan agama kepada Biro Penyelidik Federal (FBI). Karen Hughes, orang kepercayaan Bush, mengatakan bahwa Mattson sebagai pemimpin yang hebat dan panutan bagi banyak orang. Mattson adalah seorang profesor studi Islam di Hartford Seminary di Hartford, Connecticut.

Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang filsafat dari Universitas Waterloo, Ontario, pada 1987. Sementara gelar PhD pada studi Islam ia peroleh dari Universitas Chicago pada 1999. Penelitiannya mengenai Hukum Islam dan Masyarakat. Selama kuliah di Chicago, ia banyak terlibat pada kegiatan komunitas Muslim lokal.

Ia duduk dalam jajaran Direktur Universal School di Bridgeview dan anggota komite Interfaith Committee of the Council of Islamic Organizations of Greater Chicago. Mattson juga pernah menetap di Pakistan dan bekerja sebagai pekerja sosial bagi pengungsi wanita Afghanistan selama kurun waktu 1987-1988. Pada 1995, ia ditunjuk sebagai penasihat bagi delegasi Afghanistan untuk PBB bagi Komisi yang membidangi Status Perempuan.

Saat bekerja di kamp pengungsi di Pakistan inilah ia bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya, Amer Aetak, seorang insinyur dari Mesir. Dari pernikahan mereka, pasangan ini dikaruniai seorang anak perempuan bernama Soumayya dan satu orang anak laki-laki bernama Ubayda.

Meski saat ini banyak berkecimpung dalam kegiatan keagamaan dan menjabat sebagai Presiden ISNA, sebuah organisasi berbasiskan komunitas Muslim terbesar di AS, namun Mattson kecil tumbuh dan besar dalam lingkungan Kristen di Kitchener, Ontario, Kanada. Ayahnya adalah seorang pengacara pidana, sementara ibunya bekerja di rumah membesarkan ketujuh anaknya.

Mattson berhenti pergi ke gereja pada usia 16 tahun dengan alasan tidak bisa lagi percaya dengan apa yang diajarkan oleh gereja. Saat menimba ilmu di Universitas Waterloo, ia mempelajari seni dan filsafat, yang dinilainya menekankan kebebasan seseorang untuk memilih.

''Setahun sebelum saya masuk Islam, saya banyak menghabiskan waktu saya mencari dan melihat hal-hal yang berhubungan dengan seni. Saat mengikuti pendidikan bidang filsafat dan seni rupa, saya duduk berjam-jam dalam ruang kelas yang gelap untuk melihat dan mendengarkan penjelasan profesor saya melalui infokus proyektor, beliau menjelaskan tentang kehebatan hasil karya Seni Barat,'' paparnya seperti dikutip dari situs whyislam.org.

Wajah Islam
Saat di Waterloo ini, ia sempat bekerja pada bagian Departemen Seni Rupa, yang salah satu tugasnya mempersiapkan slide dan katalog seni. Karenanya setiap kali masuk ke perpustakaan, menurut Mattson, ia selalu mengumpulkan buku-buku seni sejarah. Dan untuk mendapatkan bahan-bahan guna keperluan pembuatan katalog seni, ia terpaksa harus pergi ke museum yang ada di Toronto, Montreal, dan Chicago.

Bahkan, ia harus merelakan masa liburan musim seminya dihabiskan di dalam Museum Louvre yang berada di tengah Kota Paris. Saat berada di Paris inilah untuk kali pertama dalam hidupnya Mattson berjumpa dengan seorang Muslim. Ia menyebut momen tersebut sebagai 'the summer I met Muslims'.

''Saya selalu terkenang akan peristiwa ini,'' ungkapnya. Apa yang dicarinya selama ini, ungkap Mattson, hanya berkaitan dengan semua karya seni yang tergambar dalam bentuk visual. Peradaban Barat memang dikenal memiliki tradisi menggambarkan sesuatu dalam bentuk visual, termasuk penggambaran mengenai keberadaan Tuhan.

''Kita banyak membuat kesalahan dengan berpikir bahwa melihat berarti mengenali, dan semakin terekspose seseorang itu, maka semakin pentinglah orang tersebut.'' Namun, akhir dari pencariannya tentang seni telah membawa Mattson bertemu dengan dua orang seniman, laki-laki dan perempuan, yang tidak membuat patung dan lukisan sensual tentang Tuhan. ''Mereka telah mengenali Tuhan dengan cara yang berbeda, menghargai pemimpin, dan menghargai hasil kerja seorang wanita.''

Gambaran mengenai Islam yang ia dapatkan dari kedua orang teman barunya ini, membawa Mattson pada pengenalan wajah Islam yang semakin baik. Ia menyatakan, peradaban Islam tidak menganut sistem penggambaran sesuatu dalam bentuk visual di dalam mengingat dan Memuji Tuhan dan menghargai seorang Nabi.

''Allah adalah sesuatu yang tersembunyi. Tersembunyi dalam pantulan mata umat manusia. Tetapi, orang yang memiliki penglihatan dapat mengenali Tuhannya dengan melihat, mempelajari pengaruh dari kekuatan ciptaan-Nya.'' Selain penggambaran terhadap Tuhan, umat Islam juga melarang penggambaran terhadap semua Nabi Allah.

Umat Islam hanya menuliskan nama mereka dalam bentuk kaligrafi. Kata-kata, tulisan, dan ucapan serta akhlak mulia dalam kehidupan merupakan media utama bagi Muhammad di dalam menyebarkan pengaruhnya ke seluruh umatnya. Dari sinilah kemudian Mattson mulai tertarik untuk mempelajari keyakinan yang dianut oleh kedua temannya yang asal Senegal ini.

Ia pun mulai menggali tentang ketuhanan dan kepribadian Muhammad melalui Alquran terjemahan. Setelah banyak mempelajari lebih jauh mengenai Islam dari Alquran, Mattson akhirnya menyadari dan yakin adanya Allah. ''Pilihan-pilihan Anda mencerminkan siapa diri Anda. Meski ada keterbatasan, tapi selalu tersedia kesempatan untuk memilih yang terbaik,'' katanya.

Yang membuatnya semakin tertarik dengan Islam adalah semua umat Muhammad tidak hanya mengikutinya dalam hal beribadah, tetapi juga di dalam semua aspek kehidupan, mulai dari kebersihan diri sampai pada cara bersikap terhadap anak-anak dan tetangga. Semua perbuatan, perkataan, dan perilaku Nabi SAW inilah yang disebut dengan sunah.

Dan pengaruh Sunah Nabi Muhammad tersebut telah tergambar pada kehidupan para orang tua, muda, kaya, miskin, yang menjadikannya sebagai suri teladan bagi semua pengikutnya. ''Pertama kali saya menyadari pengaruh fisik dari Sunah Nabi Muhammad pada generasi muda Muslim adalah ketika suatu hari saya duduk di masjid, menyaksikan anak saya yang berumur 9 tahun shalat di samping guru mengajinya. Ubayda duduk di samping guru dari Arab Saudi yang dengan tekun dan lembut mengajarinya sehingga membuatnya sangat respek dan hormat,'' tuturnya. ed: sya

Islam itu Suka Berbagi

Perkenalan Ingrid Mattson tentang Islam makin berkembang saat ia berkunjung ke sejumlah negara yang mayoritas berpenduduk Muslim.

Beberapa peristiwa yang dia temui di negaranegara tersebut, diakui Mattson, makin mempertebal keyakinannya terhadap Islam. Lebih setahun, dalam perjalanannya ke negara-negara Muslim ini ia menyaksikan kesamaan keinginan untuk berbagi dan selalu saling memberi antara sesama serta kesamaan keyakinan yang mendalam.

''Makanan untuk dua orang cukup untuk tiga orang dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang,'' jelasnya sambil mengutip hadis Nabi SAW.

Salah satunya adalah ketika ia mengunjungi Kosovo. Selama serangan Serbia ke Kosovo, banyak Muslim Albania yang menyediakan rumah mereka untuk para peng ungsi. Bahkan, satu orang memasak setiap harinya untuk 20 orang dalam rumah yang sederhana.

Begitu juga ketika ia menikah di Pakistan. Sebagai pekerja sosial pada kamp pengungsian, Mattson dan suami tidak memiliki cukup uang. Sekembalinya dari pernikahan ke kamp pengungsian, para wanita Afghanistan bertanya kepadanya tentang pakaian, perhiasan emas, cincin kawin, dan kalung emas yang diberikan oleh suami kepadanya sebagai mahar.

''Saya perlihatkan kepada mereka cincin emas sederhana dan saya ceritakan tentang baju pengantin yang saya pinjam untuk menikah. Wajah mereka langsung berubah menunjukan perasaan sedih dan simpati.

'' Seminggu setelah peristiwa itu, saat ia sedang duduk di depan tenda kamp pengungsi yang berdebu, para wanita Afghanistan tersebut muncul lagi. Mereka datang menemuinya dengan membawa celana biru cerah terbuat dari satin dengan hiasan emas, sebuah baju berlengan merah dengan warna-warni dan scarfwarna biru yang tampak serasi dengan pakaian, sebagai hadiah per -nikahan.

''Semua yang saya lihat adalah hadiah pernikahan yang tak ternilai bagi saya, bukan saja dukungan mereka, tetapi pelajaran keikhlasan dan rasa empati yang mereka berikan yang merupakan buah yang sangat manis dari sebuah keyakinan yang benar". dia/sya

(Sumber: www.republika.co.id, 07 Desember 2009)
 

Nicolas Anelka: Islam Memberikan Kedamaian dan Ketenangan Hidup

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Friday, 22 January 2010 17:15 Written by Administrator Wednesday, 20 January 2010 20:52

Bagi Anelka, Islam merupakan sumber kekuatan dan petunjuk dalam hidupnya.

Bagi penggemar sepak bola dunia, terutama pendukung klub Inggris, Chelsea Football Club, tentu tak asing dengan nama Nicolas Anelka. Anelka adalah salah satu striker paling berbahaya apabila berada di depan mulut gawang lawan.

Anelka dikenal sebagai  striker yang sangat produktif dalam menciptakan peluang dan menjebloskan si kulit bundar ke gawang lawan. Pada Liga Primer Inggris ( England Primiership League /EPL) 2008-2009 lalu, Nicolas Anelka menjadi pencetak gol terbanyak ( top score ) dengan 22 gol. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan kompatriotnya, Didier Drogba, penyerang Chelsea asal Pantai Gading.

Nicolas Anelka dan Didier Drogba, adalah salah satu duet  striker yang sangat ditakuti di liga Inggris. Keduanya dikenal sebagai  striker yang haus gol.Anelka termasuk sebagai pesepak bola papan atas dunia. Di klub yang dibelanya saat ini, Chelsea, Anelka menjadi salah satu pemain utama jika tidak sedang dibebat cedera.

Di balik kegarangannya dalam menceploskan si kulit bundar ke gawang lawan, Nicolas Anelka memiliki sikap yang sangat dingin. Ia sangat jarang tersenyum ketika sudah berada di lapangan. Terkadang, rekan-rekannya sering merasa serbasalah ketika berbicara dengannya. Dirinya sangat fokus pada permainan.

Di lini depan  The Blues, Chelsea, Anelka dikenal sebagai pemain yang kalem dalam bersikap, namun garang di depan lawan. Ia juga terbilang pemain yang tenang dan tidak emosional.
Kondisi ini bertolak belakang saat ia masih memperkuat Real Madrid, Liverpool, Manchester City, dan Arsenal. Ketika itu, pria kelahiran Versailles, Prancis, ini dikenal sebagai pria yang suka  ngambek dan emosional.
|
Memeluk Islam
Kini, Anelka di kenal dingin, tidak meledak-ledak, dan tidak suka  ngambek lagi sejak bermain di Chelsea. Apa gerangan yang terjadi dengan Anelka? Apa yang menyebabkan dirinya makin bijak dan tenang itu?Dalam wawancara dengan sebuah media di Inggris, ketika ditanyakan tentang sikapnya yang kini dingin dan lebih dewasa itu, Anelka menjawab ringan.

''Islam banyak membantu saya untuk bisa bersikap tenang dan berkonsentrasi dan memiliki semangat tinggi. Saya senang menjadi seorang Muslim, sebuah agama yang tenang dan saya banyak belajar dari Islam,'' tutur Abdul Salam Bilal Anelka, nama Muslimnya.

Sebelumnya, Anelka sempat menyembunyikan identitas keislamannya dari hadapan publik. Bahkan, tak seperti rekannya Franck Ribery, pemain FC Bayern Muenchen, Jerman, asal dari Prancis, yang selalu berdoa ketika pertandingan akan dimulai. Anelka justru diam saja dan benar-benar menyembunyikan identitas Muslimnya.''Bagi saya, agama adalah masalah pribadi, tak perlu diungkapkan ke publik,'' terangnya.

Namun belakangan, ketika publik sudah mengetahui identitasnya sebagai pemeluk agama Muhammad SAW, Nicolas Anelka justru makin terlihat arif dan bijaksana.Sejak kapan Anelka memeluk Islam? Ternyata, kepindahannya ke klub asal Turki, Fenerbahce, selepas bermain di Manchester City selama tiga musim, pada tahun 2004 Anelka mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam. Karena itu, pemilik nama lengkap Nicolas Sebastien Anelka ini mengumumkan secara resmi perihal perpindahan dirinya menjadi seorang Muslim.

Dilahirkan di Versailles, Prancis, pada 14 Maret 1979, Anelka menghabiskan masa kecilnya di Trappes, sebuah kota kecil yang berada di pinggiran barat Paris.Sebelum menjadi seorang Muslim, Anelka adalah seorang ateis (tak beragama). Ia juga bukan pemeluk agama Kristen seperti yang diperkirakan oleh sebagian orang. Ia dulunya benar-benar tak memiliki Tuhan.

Namun demikian, di saat dirinya tak beragama itu, Anelka banyak bergaul dan menjalin persahabatan dengan keluarga Muslim. Dan, dari situlah Anelka mulai tertarik dengan Islam. ''Saya menjadi seorang Muslim sejak saya berusia 16 tahun,'' curhatnya dalam wawancara dengan majalah Arab, Super Magazine .

Kepada para pembaca majalah FourFourTwo, pemain asal Prancis ini mengungkapkan alasannya mengapa memilih Islam. Islam, kata dia, adalah cara hidup yang cocok dengan dirinya. ''Saya merasa nyaman dan tenang dengan agama dan hidup saya saat ini. Tapi, ini masalah pribadi dan itu mengapa saya tidak membicarakan hal itu selalu sering. Itu adalah sisi pribadi saya.''

Menganut Islam, diakui striker Chelsea ini banyak membawa perubahan positif dalam hidupnya. Menurutnya, agama Islam menuntunnya untuk tetap bersikap arif. Dan, hal inilah yang melatarbelakangi sikap tenangnya saat berlaga di lapangan.''Islam banyak membantu saya untuk bisa bersikap tenang dan berkonsentrasi dan memiliki semangat tinggi,'' tuturnya.

''Saya senang menjadi seorang Muslim, sebuah agama yang tenang dan saya banyak belajar dari Islam,'' tambahnya. Dalam wawancara yang dimuat di Match, majalah terbitan Prancis, Anelka mengungkapkan bahwa Islam adalah sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan. ''Saya menjalani karier yang berat. Saya kemudian berketetapan hati untuk menemukan kedamaian. Dan, akhirnya saya menemukan Islam.''

Di kehidupan pribadi, Anelka menikah dengan seorang perempuan berkebangsaan Belgia, Barbara Tausia, pada 9 Juni 2007 di Marrakesh, Maroko. Pernikahannya dengan wanita yang berprofesi sebagai seorang koreografer ini tidak membuat Anelka memilih meninggalkan keyakinan barunya tersebut. Bahkan, Anelka berencana untuk tinggal di Uni Emirates Arab setelah pensiun nanti. Dan, di sela-sela bermain sepak bola, Anelka kerap bermain tenis dan pernah bermain untuk satu film berjudul ''Le Boulet'' sebagai pemain sepak bola bernama Nicolas.

Tetap berpuasa
Sebagai seorang pemain sepak bola profesional dan penganut Islam yang taat, kewajiban berpuasa selama bulan Ramadhan tidak membuat Anelka kesulitan untuk tetap menjalankan aktivitasnya di lapangan hijau. Seperti kebanyakan pemain sepak bola Muslim lainnya di Liga Premier, Anelka berusaha tetap menjalankan ibadah puasa.

Dalam sebuah wawancara dengan majalah FourFourTwo, peraih Golden Boot Premiership musim kompetisi 2008/2009 ini mengungkapkan bahwa sebagai seorang Muslim yang taat, ia wajib menghormati bulan Ramadhan dengan menjalankan kewajiban puasa.''Sebetulnya puasa bukan suatu hal yang sulit untuk dijalankan. Saya pernah melakukannya beberapa kali. Namun, dalam beberapa kali Ramadhan saya mengalami dua atau tiga cedera. Sehingga, hal itu membuat saya tidak bisa berpuasa.''

Ucapkan Syahadat di Fenerbache

Musim lalu,  striker Chelsea Nicolas Anelka menjadi pencetak gol terbanyak Liga Premier.  Striker Prancis ini memang berambisi untuk kembali menjadi top skor bersama rekan satu timnya, Didier Drogba.

Sejak menyatakan diri pindah memeluk agama Islam tahun 2004 lalu, Anelka juga menyandang nama Islam, yakni Abdul Salam Bilal Anelka. Diyakini kepindahan Anelka memeluk agama Islam ini ketika dia membela raksasa Turki, Fenerbahce, setelah tiga musim bermain untuk Manchester City, Inggris. Memulai karier di Paris Saint-Germain, namun setelah itu pindah ke Arsenal, Anelka langsung menjadi pemain utama dan meraih gelar pemain muda terbaik versi PFA.

Usai bermain untuk  The Gunners , julukan Arsenal, Anelka pindah ke Real Madrid tahun 1999 dengan nilai transfer 22,3 juta pound. Sayangnya ia tak betah dan kembali lagi ke klub lamanya, Paris Saint-Germain, dengan nilai transfer lebih rendah, yakni sebesar 20 juta pound.

Meski sudah nyaman di Paris, Anelka kembali mengincar Liga Premier dan bermain untuk Liverpool pada Januari 2002 dengan status pinjaman. Setelah itu, dia bergabung dengan Manchester City dengan transfer senilai 13 juta pound di awal musim 2002-2003. Setelah merumput selama tiga musim bersama Manchester City, kemudian dia pindah ke Fenerbahce.

Di klub Turki inilah, Anelka diyakini mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah dari Fenerbahce, Anelka kembali Lige Premier Inggris. Di benua biru ini, Anelka bergabung dengan Bolton Wanderers yang memboyongnya dari Fenerbache dengan nilai transfer 7-8 juta pound.Kemudian, pada musim kompetisi 2008/2009, Anelka pindah ke Chelsea dengan nilai transfer 15 juta pound. Ia mulai bergabung dengan  The Blues pada Januari 2008 silam, dan menjadi pencetak gol terbanyak dengan 22 gol. dia/sya/berbagai sumber

Biodata :

Nama Lengkap : Nicolas Sebastien Anelka
Nama Muslim : Abdul Salam Bilal Anelka
TTL : Versailles, Prancis, 14 Maret 1979
Istri : Barbara Tausia
Klub Saat ini : Chelsea FC
Masuk Islam : 2004
Karier Profesional :
1. Paris Saint-Germain/PSG (Prancis)
2. Arsenal (Inggris)
3. Liverpool (Inggris)
4. Real Madrid (Spanyol)
5. Manchester City (Inggris)
6. Fenerbahce (Turki)
7. Bolton Wonderes (Inggris)

(Sumber: republika.co.id, 31 Agustus 2009)
   

Eric 'Bilal' Abidal Meyakini Islam Sepenuh Hati

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Friday, 22 January 2010 17:13 Written by Administrator Wednesday, 20 January 2010 20:31

Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat.

Kariernya di lapangan hijau kian moncer. Penggemar La Liga Spanyol pasti mengenal sosok Eric Abidal. Ia dikenal sebagai bek andal yang memperkuat FC Barcelona dan Timnas Prancis. Mei lalu, Abidal sempat menjadi pusat pemberitaan, ketika klub sepak bola terkemuka asal Italia, Juventus, berniat memboyongnya dari Barcelona.

Tak tanggung-tanggung, Si Nyonya Tua--julukan Juventus--siap mendatangkan Abidal ke Turin dari Barcelona dengan bonus striker David Trezequet. Namun, tawaran menggiurkan itu ditolak Barca. Abidal yang dikenal sebagai bek kiri, yang memiliki keunggulan dari aspek kekuatan fisik serta teknik, memutuskan tetap bermain di Barca hingga Juni 2012 mendatang.

Ia memperpanjang kontrak dengan Barca yang semula berakhir pada 2011. ''Buyout clause bagi Abidal adalah 90 juta euro,'' demikian keterangan yang disampaikan Barcelona melalui situs resminya.

Abidal adalah salah satu pesepak bola dunia yang beragama Islam. Sejatinya, dia adalah seorang mualaf. Sang bintang memeluk agama Islam baru enam tahun terakhir. Terlahir di Lyon, Prancis, pada 11 September 1979, Abidal berasal dari keluarga imigran asal Afrika. Sebelumnya, Abidal merupakan seorang pemeluk agama Katolik.

Pertemuan dengan wanita yang kini menjadi istrinya telah mengantarkannya pada agama Allah SWT. Setelah menikah dengan Hayet Abidal, seorang perempuan asal Aljazair, Abidal memeluk agama Islam. Setelah mengucap dua kalimah syahadat, ia berganti nama menjadi Eric Bilal Abidal.

Kepada majalah Match yang terbit di Paris, Abidal mengatakan, agama Islam telah mendorongnya untuk bekerja keras untuk memperkuat timnya. ''Saya memeluk Islam dengan keyakinan penuh,'' ujar ayah dua anak itu. Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat.
 
Ia tak pernah melupakan shalat. Terlebih lagi, di markas FC Barcelona, Camp Nou, masih ada dua pemain lainnya yang beragama Islam, yakni Seydou Keita dan Yaya Toure. Ketatnya jadwal pertandingan yang harus dilakoni, membuat Abidal sedikit terkendala saat menjalankan ibadah puasa secara penuh pada bulan Ramadhan.

Ramadhan lalu, Abidal memutuskan tak berpuasa ketika membela Barca. Menurutnya, hal itu terpaksa dilakukan, sebagai komitmen terhadap profesionalitasnya sebagai pemain. Hal serupa sebenarnya juga dilakukan dua rekannya di El Barca, Seydou Keita dan Yaya Toure. Meski begitu, ketiganya mengganti puasa di lain hari, setelah Ramadhan berakhir.

Abidal memulai karier profesionalnya bersama klub sepak bola Prancis, AS Monaco, pada 16 September 2000. Ia sempat 22 kali menyandang ban kapten bersama Monaco. Setelah itu, dia pindah ke Lille OSC. Di klub inilah, dia bereuni dengan mantan pelatihnya, Claude Puel, dan 62 kali membela Lille.

Di akhir 2004, dia kembali ke kota kelahirannya dan bergabung dengan Lyonnais. Ia berhasil mengantarkan timnya meraih dua gelar di Ligue 1 berturut-turut selama dua musim. Selama kariernya di Prancis, dia dikenal sebagai salah satu bek terbaik di Ligue 1. Di Lyon, dia bermain bersama kiper Gregory Coupet, Francois Clerc, dan Anthony Reveillere serta dua pemain Brasil, Cris dan Cacapa.

Pada 30 Juni 2007, Abidal hengkang ke Barcelona dengan nilai transfer 15 juta euro. Di Camp Nou dia memakai nomor punggung 22. Sejak itu, Abidal menjadi pemain pilar Barca. Nilai kontrak Abidal mencapai 90 juta euro dengan klausal pelepasannya, dan Lyon akan menuai bonus sebesar 500 ribu euro jika Barca meraih gelar Liga Champions untuk empat tahun ke depan. Dan, itu terjadi setelah Barca berhasil mengalahkan Manchester United di Roma.

Motivasi Sang Istri

Istri adalah motivator utama bagi suami. Hal itu sangat dirasakan betul oleh bek kiri tim nasional Prancis dan FC Barcelona, Eric Abidal. Kesuksesannya merumput di lapangan hijau tak lepas dari peran sang istri. Motivasi dan dukungan penuh yang dipompa sang istri, Hayet Abidal, telah membuat peformanya saat memainkan si kulit bundar bertambah maksimal.

''Bagiku, dia (Hayet) adalah sebuah permata. Dia juga pemegang kemudi yang sangat menakjubkan. Saya beruntung mendapat perempuan seperti dia, yang sanggup memberikan arahan dan pendapat yang logis sebelum aku memutuskan hal krusial, termasuk dalam memilih karier,'' ungkap Abidal seperti ditulis France Football.

Abidal mengakui, kepindahannya ke Barcelona tak terjadi begitu saja. Saran 'magis' sang istrilah yang mampu menggerakkan hatinya untuk mencoba peruntungan di negeri Matador. Betapa tidak, tanpa harus pindah ke Barcelona pun, Abidal telah memiliki segalanya di Prancis. Tetapi, di mata sang istri, semua itu belum sempurna. Satu-satunya cara, menurut sang istri, Abidal harus berkarier di klub luar negeri.

Hayet mendorongnya untuk bergabung bersama Barcelona. ''Aku ingin suamiku tak hanya terpaku bermain di klub sepak bola Prancis. Penting bagi kami untuk menyiapkan masa depan, terutama setelah ia pensiun nanti. Jadi, berkenalan dengan banyak orang di mancanegara memberi banyak keuntungan. Nantinya, kami bisa menjalin relasi bisnis ataupun kerja sama apa yang saling menguntungkan,'' ujar Hayet, yang memang terkenal memiliki insting bisnis tinggi itu.

Besarnya peran Hayet dalam kehidupan pribadi Abidal sudah dibuktikan sejak mereka menikah. Usai menikah, Abidal memilih memeluk Islam setelah mendapat bimbingan intensif dari sang istri yang asli Aljazair. ''Semua berlangsung alami. Pilihan memeluk agama Islam bukan karena faktor istriku, tapi sebuah hadiah yang tiba-tiba saja muncul. Itu benar-benar terjadi apa adanya. Mengalir begitu saja dan membuatku merasa bahagia,'' ungkap Abidal.

Meski dikenal sebagai seorang Muslim yang taat, Hayet juga sangat dekat dengan dunia entertainment. Bedanya, dia sangat pandai membagi peran dan penampilan. Ia tahu saat harus mengenakan busana sopan dan kapan harus mengenakan gaun indah. ''Saya seperti istri pesepak bola lain. Bedanya, saya tak suka berfoya-foya atau larut di dunia malam. Lebih indah jalan-jalan bareng Abidal dan belanja bersama,'' tutur Hayet.

Pertemuan Abidal dengan sang istri terjadi ketika ia masih remaja. Kedua sejoli ini kemudian memutuskan untuk menikah pada Juli 2003 silam. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua orang putri, yakni Meliana yang lahir pada 2004 dan Canelia lahir tahun 2006. nidia zuraya/Heri Ruslan/taq

Biodata
Nama Lengkap    : Eric Bilal Abidal
Tanggal Lahir   : 11 September 1979
Tempat Lahir    : Lyon, Prancis
Tinggi Badan    : 1,86 meter
Klub            : Barcelona
Posisi          : Defender
Nomor Punggung  : 22
Awal Karier     : Lyon Duchere

(Sumber: www.republika.co.id, 29 Desember 2009)
 

Hidayah bagi Sang Diplomat Jerman

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Friday, 22 January 2010 17:07 Written by Administrator Wednesday, 20 January 2010 20:30

''Islam adalah agama rasional dan satu-satunya agama yang menolak adanya dosa warisan.''

Islam adalah agama yang rasional dan universal. Ia bisa diterima dan sesuai dengan akal sehat. Agama Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Sebab, kendati diturunkan di Jazirah Arabia, agama Islam bukan hanya untuk orang Arab, tetapi juga bisa diterima oleh orang yang bukan Arab (Ajam).

Bahkan, ilmu-ilmu dan ajaran yang terkandung dalam Alquran, sesuai dengan pandangan hidup umat manusia. Karena itu, tak heran, bila agama yang dibawa oleh Muhammad SAW ini, dengan mudah diterima oleh orang-orang yang senantiasa menggunakan akal pikirannya. Itulah yang dialami Dr Murad Wilfried Hofmann, mantan Diplomat Jerman. Ia menerima agama Islam, disaat kariernya berada di puncak.

Dr Hofmann, menerima Islam pada 25 September 1980. Ia mengucapkan syahadat di Islamic Center Colonia yang dipimpin oleh Imam Muhammad Ahmad Rasoul. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Dia adalah lulusan dari Union College di New York dan kemudian melengkapi namanya dengan gelar Doktor di bidang ilmu hukum dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957.

Selain itu, Hofmann dulunya adalah seorang asisten peneliti pada Reform of Federal Civil Procedure. Dan pada tahun 1960, ia menerima gelar LLM dari Harvard Law School. Kemudian, pada tahun 1983-1987, ia ditunjuk menjadi direktur informasi NATO di Brussels. Selanjutnya, ia ditugaskan sebagai diplomat (duta besar) Jerman untuk Aljazair tahun 1987 dan dubes di Maroko tahun 1990-1994. Tahun 1982 ia berumrah, dan 10 tahun (1992) kemudian melaksanakan haji.

Namun, justru sebelum di Aljazair dan Maroko inilah, Hofmann memeluk Islam. Dan ia baru mempublikasikan keislamannya setelah dirinya menulis sebuah buku yang berjudul Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif) tahun 1992. Setelah terbit bukunya ini, maka gemparlah Jerman.

Dalam buku tersebut, ia tidak saja menjelaskan bahwa Islam adalah alternatif yang paling baik bagi peradaban Barat yang sudah kropos dan kehilangan justifikasinya, namun secara eksplisit Hofmann mengatakan, bahwa agama Islam adalah agama alternatif bagi masyarakat Barat. Islam tidak menawarkan dirinya sebagai alternatif yang lain bagi masyarakat Barat pasca industri. Karena memang hanya Islam-lah satu-satunya alternatif itu, tulisnya.

Karena itu, tidak mengherankan saat buku itu belum terbit saja telah menggegerkan masyarakat Jerman. Mulanya adalah wawancara televisi saluran I dengan Murad Hofmann. Dan dalam wawancara tersebut, Hofmann bercerita tentang bukunya yang ketika itu sebentar lagi akan terbit itu.Saat wawancara tersebut disiarkan, seketika gemparlah seluruh media massa dan masyarakat Jerman. Dan serentak mereka mencerca dan menggugat Hofmann, hingga mereka membaca buku tersebut. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh media massa murahan yang kecil, namun juga oleh media massa yang besar semacam Der Spigel.

Malah pada kesempatan yang lain, televisi Jerman men-shooting Murad Hofmann saat ia sedang melaksanakan shalat di atas Sajadahnya, di kantor Duta Besar Jerman di Maroko, sambil dikomentari oleh sang reporter: Apakah logis jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?

Hofmann tersenyum mendengar komentar sang reporter.Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realitas yang pedih. Artinya, Hofmann paham bahwa keislamannya akan membuat warga Jerman marah. Namun ia sadar, segala sesuatu harus ia hadapi apapun resikonya. Dan baginya Islam adalah agama yang rasional dan maju.

Sebagai seorang diplomat, pemikiran Hofmann terkenal sangat brilian. Karena itu pula, ia menambah nama depannya dengan Murad, yang berarti yang dicari. Leopold Weist, seorang Muslim Austria yang kemudian berganti nama menjadi Muhamad Asad, mengatakan, dalam pengertian luas, Murad adalah tujuan, yakni tujuan tertinggi Wilfried Hofmann.

Keislaman Hofmann dilandasi oleh rasa keprihatinannya pada dunia barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakannya tak mampu mengobati rasa kekecewaan dan keprihatinannya akan kondisi tersebut.
Apalagi, ketika ia bertugas menjadi Atase di Kedutaan besar Jerman di Aljazair, ia menyaksikan sikap umat Islam Aljazair yang begitu sabar, kuat dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Atas dasar itu dan sikap orang Eropa yang mulai kehilangan jati diri dan moralnya, Hofmann memutuskan untuk memeluk Islam.

Ia merasa terbebani dengan pemikiran manusia yang harus menerima dosa asal (turunan/warisan) dan adanya Tuhan selain Allah. Mengapa Tuhan harus memiliki anak dan kemudian disiksa dan dibunuh di kayu salib untuk menyelamatkan diri sendiri. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak punya kuasa, tegasnya.

Bahkan, sewaktu masa dalam masa pencarian Tuhan, Hofmann pernah memikirkan tentang keberadaan Allah. ia lalu melakukan analisa terhadap karya-karya filsuf seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, hingga akhirnya ia dengan yakin menemukan bahwa Tuhan itu ada.

Ia kemudian bertanya; Bagaimana Allah berkomunikasi dengan manusia dan membimbingnya? Disini ia menemukan adanya wahyu yang difirmankan Tuhan. Dan ketika membandingkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam, yang umatnya diberi wahyu, Hofmann menemukannya dalam Islam, yang secara tegas menolak adanya dosa warisan.

Ketika manusia berdoa, mereka harusnya tidak berdoa atau meminta kepada tuhan lain selain Allah, sang Pencipta. Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah, tegasnya.

Hofmann melihat bahwa agama Islam adalah agama yang murni dan bersih dari kesyirikan atau adanya persekutuan Allah dengan makhluknya. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan,ujarnya. Dalam bukunya Der Islam Als Alternative, Annie Marie Schimmel memberikan kata pengantar dengan mengutip kata-kata Goethe.Jika Islam berarti ketundukan dengan penuh ketulusan, maka atas dasar Islam-lah selayaknya kita hidup dan mati.

Dalam bukunya Trend Islam 2000, Hofmann menyebutkan, potensi masa depan peradaban Islam. Ia menjelaskan, ada tiga sikap muslim terhadap masa depan mereka. Yakni, kelompok pesimis (yang melihat perjalanan sejarah selalu menurun), kelompok stagnan (yang melihat sejarah Islam seperti gelombang yang naik turun), dan ketiga kelompok optimis (umat yang melihat masa depannya terus maju). Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk senantiasa bersikap optimis dan menatap hari esok yang lebih baik.

Hofmann juga banyak terlibat aktif dalam organisasi keislaman, seperti OKI. Ia senantiasa menyampaikan pemikiranpemikiran briliannya untuk kemajuan Islam. Pada pertengahan September 2009 lalu, ia dinobatkan sebagai Muslim Personality of The Year (Muslim Berkepribadian Tahun Ini), yang diselenggarakan oleh Dubai International Holy Quran Award (DIHQA). Penghargaan serupa pernah diberikan pada Syekh Dr Yusuf al-Qaradhawi.

Islam Agama Rasional

Ada beberapa alasan yang membuat Murad Wilfried Hofmann akhirnya keluar dari Katholik dan memilih Islam. Dan alasan-lasan itu sangat membekas dalam pikirannya.

Tahun 1961, ketika ia bertugas sebagai Atase Kedutaan Besar Jerman di Aljazair, ia mendapati dirinya berada di tengah-tengah perang gerilya berdarah antara tentara Prancis dan Front Nasional Aljazair yang telah berjuang untuk kemerdekaan Aljazair, selama delapan tahun. Disana ia menyaksikan kekejaman dan pembantaian yang dialami penduduk Aljazair. Setiap hari, banyak penduduk Aljazair tewas.

Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair dalam menghadapi penderitaan ekstrem, mereka sangat disiplin dan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, rasa percaya diri mereka sangat tinggi dengan kemenangan yang akan diraih. Saya sangat salut dan bangga dengan sikap mereka, ujarnya. Alasan lain yang membuatnya memilih Islam, Hofmann adalah seorang penyuka seni dan keindahan.

Islam punya beragam kesenian yang sangat menarik dan indah, termasuk seni arsitekturnya. Hampir semua ruangan dimanifestasikan dalam seni keindahan Islam yang universal. Mulai dari kaligrafi, pola karpet, ruang bangunan dan arsitektur masjid, menunjukkan kuatnya seni Islam, jelasnya. Dari beberapa alasan diatas, persoalan yang benar-benar membuatnya harus memeluk Islam, karena hanya agama ini yang tidak mengajarkan doktrin tentang dosa warisan.

Pernyataan yang terdapat dalam Alquran sangat jelas, rasional dan tegas.Tak ada keraguan bagi saya akan kebenaran Islam dan misi yang dibawa oleh Nabi Muhammad SA, paparnya. sya/berbagai sumber
Biodata
Nama : Wilfried Hofmann
Nama Muslim : Murad Wilfried Hofmann
Lahir : Jerman, 6 September 1931
Masuk Islam : 25 September 1980

Pekerjaan :
*Direktur Informasi NATO di Brussels Belgia
(1983-1987)
*Duta Besar Jerman untuk Aljazair (1987-
1990)
*Duta Besar Jerman untuk Maroko (1990-
1994).
*Penulis

(Sumber: republika.co.id, 29 September 2009)
   

Page 4 of 7