Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Mengkaji disiplin ilmu hadits adalah pekerjaan yang tak mudah. Sebab, disiplin ini berbeda dengan ilmu-ilmu Islam lainnya dalam segi sejarah, proses transmisi, dialektika, dinamika pro-kontra, maupun kerumitan-kerumitan tersendiri yang membuatnya istimewa. Kenapa istimewa(?), karena ilmu inihanya ada dalam Islam dan tak dimiliki oleh agama-agama lainnya.


Maka tidak heran jika Allah SWT menyebut pengikut nabi Muhammad SAW sebagai umat terbaik (baca: QS. Ali Imran [3]: 110). Pasalnya, umat Muhammad ini dibekali dengan berbagai macam perlengkapan guna mengaktualisasikan potensi dirinya sebagai khalifah. Di antara perlengkapan tersebut adalah Sunnah, yang tiada lain merupakan sumber pengambilan hukum kedua setelah al-Quran. Juga, pada saat yang bersamaan Sunnah berfungsi sebagai pedoman hidup dan lentera penerang dalam mengarungi belantara kehidupan.

Oleh karenanya, umat Islam mempunyai perhatian yang demikian besar dalam rangka menjaga warisan Nabi ini, dengan sebaik-baiknya. Di antaranya melalui jalur transmisi, yaitu proses penyampaian secara berkesinambungan dari masa ke masa, lintas generasi, sehingga sampai pada masa di mana ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang. Walhasil, Sunnah Nabi hingga kini masih lestari, mengukuhkan diri sebagai sumber energi, laksana mata air yang selalu dicari oleh manusia guna menyeka dahaga.

Adapun terkait dengan proses transmisi Sunnah, paska terjadinya tragedi fitnah setelah kemangkatan Utsman, beberapa kalangan tak bertanggung jawab mulai menerapkan akal bulusnya guna menguatkan posisi kelompok masing-masing. Akhirnya, muncullah berbagai hadits paslu yang dibuat-buat demi kepentingan hawa nafsu. Melihat fenomena naas semacam ini, ulama Islam (setelah masa-masa fitnah mereda) bersegera melakukan reaksi dalam rangka menyelamatkan Sunnah dari penyelewengan dan pendustaan. Mereka lalu memisahkan antara hadits yang shohih dan hadits yang dhoif. Hal itu dilakukan melalui berbagai proses penyaringan yang ketat dan selektif.

Nah, setelah proses inilah akhirnya dikenal berbagai terminologi dalam bidang musthalah hadts, yang kesemuanya terangkup dalam disiplin ulm al-hadts. Terkait pembahasan ulm al-hadts, kita tentu tak akan lupa dengan seorang ulama terkemuka, yang telah berjasa menggarap rancang bangun ulm al-hadts sehingga ia menjadi satu disiplin ilmu yang mapan. Siapakah ia? Mari kita simak pembahasan lebih lanjut tentang tokoh kita dalam kajian kali ini!


Mengenal Pribadi Ibnu Shalh

Nama aslinya Taqiyyuddn Abu Amr Utsman bin Abdurrahman bin Utsman bin Musa al-Kurdi al-Syahrazuri. Ibnu al-Shalh sendiri awalnya adalah julukan ayahnya, lalu whatdinisbatkan kepada Abu Amr sehingga sampai sekarang ia lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Shalh. Tanah Syarkhn, yaitu sebuah desa yang terletak dekat Syahrazur, kawasan Irbil di selatan Irak adalah saksi bisu di mana Ibnu Shalh dilahirkan, pada tahun 577 H/1181 M. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam sebuah keluarga yang berada nan agamis.

Ayahnya, Abdurrahman, adalah seorang ulama terkemuka yang dikenal sebagai pakar fikih madzhab Syafii. Oleh sebab itu, sejak kecil ia mulai dikenalkan dengan fikih oleh ayahnya sendiri. Meskipun masih tergolong belia, namun Utsman kecil telah mampu menyerap berbagai pelajaran dari ayahnya. Tak tanggung-tanggung ia telah berulang kali menghatamkan kita Muhadzdzab dan mempelajari berbagai macam dalil yang ada di dalamnya. Fase berikutnya, Ibnu Shalh diutus oleh ayahnya untuk berhijrah ke Maushul untuk menuntut disiplin ilmu lainnya. Di sana ia benar-benar rajin belajar sehingga mampu menguasai berbagai ilmu seperti: fikih, ushul fikih, tafsir, hadits, bahasa dan lain sebagainya.

Petualangan Ibnu Shalh dalam Mencari Ilmu

Ibnu Shalh tergolong sebagai sosok petualang sejati. Ia berpetualang ke berbagai negeri Islam dalam rangka mencari ilmu, sebagaimana yang pernah dilakukan dan menjadi sunnah hasanah para ulama terdahulu. Terutama sebagaimana yang lazim ditempuh oleh para ulama hadits, mereka rela bepergian dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negeri ke negeri lainnya hanya demi mendapatkan (mendengarkan) sebuah hadits. Fakta sejarah ini terekam dalam sebuah karangan imam Abu Bakar al-Khathb al-Baghddi bertajuk al-Rihlatu f Thalabi al-Hadts.

Dalam kitab Ulm al-Hadts atau yang lebih dikenal dengan nama Muqaddimah Ibnu al-Shalh juga dicantumkan berbagai riwayat terkait petualangan para sahabat dan tabiin dalam mendapatkan hadits. Yaitu sebagaimana termaktub dalam pembahasan bagian ke-28, tentang marifatu dbi thlibi al-hadts dan pembahasan ke-29 tentang marifatu al-isnd al-li wa al-nzil. Maka, bagi yang ingin membaca lebih detail seputar riwayat-riwayat tersebut, silahkan langsung merujuk ke kitab tersebut.
Dalam rangkaian petualangannya, Ibnu Shalh tercatat telah mengunjungi berbagai ibukota penting negara-negara Islam. Setelah bermukim di Maushul selama beberapa tahun, beliau lalu hijrah ke Baghdad, ke Khurasan dan kemudian melanjutkan ke Syam. Dalam persinggahannya di beberapa kota tersebut, beliau belajar kepada para ulama setempat dan secara khusus mendalami ilmu hadits, sampai beliau menguasainya.

Ketika di Maushul beliau sempat berguru pada beberapa ulama terkemuka di sana, antara lain; Ubaidillah bin al-Samn, Nashrullah bin al-Salmah, Mahmoud bin Ali al-Maushili dan lain sebagianya. Di Baghdad beliau berguru kepada Abi Ahmad bin Sukainah dan Abi Hafsh bin Thabarzad. Sedangkan ketika di Hamadan, beliau belajar dari Abi al-Fadhl bin al-Muazzam. Di Naisabur beliau menimba ilmu pada sejumlah besar ulama di sana, antara lain; Abi al-Fath Manshur bin Abdil Munim bin al-Furwiy, Mu`ayyid bin Muhammad bin Ali al-Thsi, Zainab binti Abi al-Qsim al-Syariyyah dan lain-lainya. Dan masih banyak lagi guru-guru Ibnu Shalh yang tersebar di berbagai tempat yang pernah ia singgahi.

Kondisi Sosio-Politik Di Masa Hidup Ibnu Shalh

Semasa hidup, Ibnu Shalh termasuk salah satu ulama yang beruntung karena mendapati sebuah miliu yang kondusif, stabil dan mendukung aktivitas keilmuan. Beliau hidup di masa kesultanan Ayyubiyyah, yang dikenal dengan keberanian dan kepahlawanan mereka. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai pemimpin-pemimpin yang adil, bijaksana dan selalu melakukan perbaikan di berbagai wilayah yang telah mereka kuasai. Tak hanya itu, mereka sangat sadar bahwa kemenangan mereka dalam pertempuran tidak akan sempurna jika tak diiringi dengan kemajuan di bidang peradaban, yang mana pilar-pilarnya adalah ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, pemerintah berjihad untuk menggalakkan ilmu pengetahuan, dengan jalan mendirikan berbagai madrasah dan pesantren. Kondisi seperti ini tentu saja memberikan peluang yang sangat besar kepada umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain Ibnu Shalh, berbagai ulama lainnya pun muncul dalam spesifikasi ilmu yang beraneka ragam. Di antaranya seperti Abdul Ghani al-Muqaddasi (w. 600 H), Ibnu al-Atsr al-Jazariy (w. 606 H), Ibnu Askir al-Qsim Bah`uddn Abu Muhammad al-Dimasyqi (w. 600 H) dan lain sebagainya.

Kota Syam kala itu termasuk salah satu kota yang terkenal memiliki banyak pesantren dan perguruan tinggi. Di negeri ini pulalah tertancap kokoh sebuah madrasah yang secara khusus mengajarkan disiplin ilmu hadits. Adapun tokoh pertama yang mempelopori madrasah ini adalah Imm al-Hfidz Abu Bakar Ahmad bin Ali al-Khathb al-Baghddi (w. 463 H). Beliau berhijrah dari Baghdad dengan membawa berbagai karangannya menuju Damaskus untuk diajarkan di sana.

Setelah kepergian al-Khathb al-Baghddi, Ibnu Shalh kemudian menggantikan beliau sebagai pengajar ilmu hadits. Ibnu Shalh seperti menerima tampuk kepemimpinan untuk mengabdikan dirinya di Syam. Pada waktu itu, Ibnu Shalh meminta kepada ayahnya untuk pindah ke Halab guna mengajar di Madrasah Asadiyyah yang berada di sana. Semenjak itulah ayah beliau mengajar di Halab dan meninggal di kota itu pada tahun 618 H.

Salah satu fase terpenting dalam hidup Ibnu Shalh adalah ketika beliau berada di Damaskus. Di sanalah beliau benar-benar mencapai titik kematangan sebagai seorang ulama besar. Bintangnya semakin bersinar dan dikenal oleh masyarakat secara luas. Di sana pulalah beliau semakin gigih menyebarkan ilmu dan menulis berbagai karya. Beliau kemudian dikenal sebagai seorang faqh, ahli ushul fikih, dan tak main-main beliau menjadi seorang mufti dan dijuluki syaikhu al-Islm. Selain bidang fikih beliau juga menguasai bidang lainnya seperti tafsir, hadits dan sebagian besar keilmuan Islam.

Sebagai satu-satunya ulama yang paling menguasai bidang hadits (pada masa itu), sejumlah penuntut ilmu dari berbagai penjuru berbondong-bondong untuk datang menuntut ilmu kepada beliau. Sehingga, ketika dalam sebuah karya ilmu hadits disebutkan kata [Syaikh], maka yang dimaksud adalah Ibnu Shalh. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh al-Iraqi dalam Alfiyyahnya: ketika aku menggunakan kata [Syaikh] (dalam berbagai tulisanku), maka tiada lain yang aku maksud adalah Ibnu Shalh. Dengan demikian, setelah melihat sepak terjangnya, kapabilitas Ibnu Shalh dalam bidang keilmuan Islam sudah tak diragukan lagi.

Jika dahulu Ibnu Shalh adalah murid dari berbagai ulama kenamaan, maka pada gilirannya ia juga menjadi guru dari murid-muridnya, yang pada masa selanjutnya mereka juga menjadi para ulama besar. Beberapa ulama yang berguru kepada Ibnu Shalh dalam bidang fikih adalah; imam Syamsuddn Abdurrahman bin Nh al-Muqaddasi, imam Kamluddn Sallr, Kamluddn Ishq, Taqiyyuddn bin Zirrn dan sebagainya.

Adapun yang belajar hadits pada Ibnu Shalh antara lain; Fakhruddn Umar al-Karji, Majduddn bin al-Muhtr, Syaikh Tjuddn Abdurrahman, Zainuddn al-Fraqiy, al-Qdli Syihabuddn al-Jauriy dan lain sebagainya.

Ibnu Shalh dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa Ibnu Shalh kecil tumbuh berkembang dalam naungan sebuah keluarga agamis dan berkecukupan. Hal itu pulalah yang akhirnya membentuk karakter dan kepribadiannya. Ibnu Shalh tumbuh sebagai sosok yang taat beragama, giat nan rajin dalam menuntut ilmu serta selalu memprioritaskan hal-hal yang bermanfaat untuk dilakukan. Untuk sebuah pelajaran ia tak cukup mempelajarinya sekali, namun berkali-kali dan selalu ia teliti.

Ibnu Shalh adalah seorang yang zuhud dan wirai terhadap hal-hal duniawi. Namun, dalam hal berpakaian, misalnya, beliau senantiasa menggunakan pakaian yang bersih dan serapi mungkin dalam rangka menghormati majlis-majlis ilmu yang beliau hadiri. Di samping itu, Ibnu Shalh adalah pribadi yang mengikuti jejak para sufi dalam hal keilmuan sekaligus amalan. Ia sosok seorang hamba yang senantiasa berjihad mengalahkan hawa nafsu agar bisa meraih derajat ikhlas dalam setiap prilakunya. Dan yang perlu di catat, Ibnu Shalh adalah seseorang yang sangat mencintai hadits beserta ilmunya, sehingga ia pernah berkata dalam kitab Ulm al-Hadtsnya:

Ilmu hadits adalah ilmu yang mulia, yang sesuai dan seiring dengan tuntunan etika luhur,... dan ia termasuk ilmu akhirat, bukan ilmu keduniaan. Maka barangsiapa yang ingin mendengarkan (belajar) hadits, haruslah terlebih dahulu menata niat dan segenap keikhlasan!


Ibnu Shalh juga mengutip perkataan para gurunya, bahwa: Tanda orang yang panjang umurnya adalah kesibukannya dengan hadits-hadits Rasulullah SAW. Dan hal ini terbukti melalui berbagai fakta lapangan, bahwa ketika kita meneliti umur para ahli hadits, maka kita akan mendapati bahwa umur mereka di-panjang-kan (oleh Allah).

Demikianlah kita telah melihat bahwa segenap masa hidup Ibnu Shalh betul-betul dihibahkan demi ilmu pengetahuan dan Islam. Tahun 643 H, bertepatan dengan tahun 1245 M adalah hari di mana Ibnu Shalh berpulang ke rahmatullah. Tepatnya pada hari Rabu waktu Subuh dan beliau disholati setelah Dzuhur, tanggal 25 Robi`ul Akhir, di kota Damaskus.

Peninggalan Ibnu Shalh

Ibnu Shalh pergi meninggalkan berbagai buah karyanya yang terangkup dalam beberapa disiplin keilmuan. Karya-karya beliau yaitu:

  1. Thabaqtu al-Fuqah` al-Syfiiyyah;
  2. Al-`Amliy;
  3. Faw`idu al-Rihlah, sebuah kitab menarik yang mengandung berbagai pembahasan dalam beragam ilmu, beliau tulis di sela-sela perjalanan menuju Khurasan;
  4. Adbu al-Mufti wa al-Mustafti;
  5. Shilatu al-Nsiki f Shifati al-Mansiki, sebuah buku yang menjelaskan tata cara dalam melaksanakan ibadah haji;
  6. Syarhu al-Wasth fi Fiqhi al-Syfiiyyah;
  7. Al-Fatw, sebuah buku hasil kodifikasi para muridnya, berdasarkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan Ibnu Shalh, baik dalam bidang fikih, tafsir maupun hadits;
  8. Syarhu Shahhi al-Muslim, sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam Tadrb al-Rwi;
  9. Al-Mu`talaf wa al-Mukhtalaf f Asm`i al-Rijl. Sebuah manuskrip yang disimpan di Dr al-Kutub al-Dzhiriyyah;
  10. Ulm al-Hadts atau yang lebih dikenal dengan Muqaddimah Ibnu al-Shalh.

Demikian apa yang dapat penulis sampaikan terkait biografi Ibnu Shalh. Semoga, melalui kajian tokoh ini kita dapat mengambil ibrah dan pelajaran, sehingga dapat kita jadikan cermin untuk bermuhasabah. Wallahu alam![]

Referensi:

  • Ibnu al-Shalh, Abu Amr Utsmn, Muqaddimah Ibnu al-Shalh, Beirut, Dr al-Tsurayya li al-Narys.
  • Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Kairo, Maktabah Usrah, 2006.
  • Maushah Almu al-Fikr al-Islmi, Kairo, Majlis Ala li al-Syu`n al-Islmiyyah, 2004.
  • Abu Amr, Utsmn, Ulm al-Hadts li Ibni al-Shalh, Beirut, Dr al-Fikr al-Mushir.
(Sumber: http://www.mediamuslim.net, penulis M. Luthfi al-Anshori)