Pengantar Turast Hadits

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Hadits merupakan salah satu pilar utama penyangga bangunan Islam setelah al-Quran. Oleh karena itu, hadits menempati posisi yang sangat penting di kalangan umat Islam. Sebagaimana juga hadits merupakan bagian tak terpisahkan dalam khazanah keilmuan Islam. Dari sejak zaman munculnya sampai sekarang, hadits selalu menjadi objek kajian penting di kalangan ulama. Hal yang demikian itu tidaklah mengherankan, jika melihat urgensi hadits dalam konstelasi ajaran Islam itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa hadits sampai kepada kita melalui sebuah proses transmisi yang solid dari zaman ke zaman. Dan dari proses transmisi inilah muncul benih-benih yang menjadi titik tolak perkembangan ilmu hadits.

Ilmu hadits dalam perkembangannya terkelompokkan menjadi dua bagian† penting, ilmu hadÓts riw‚yah dan ilmu hadÓts dir‚yah. Di antara keduanya itu, yang muncul pertama kali adalah ilmu hadÓts riw‚yah. Kemunculannya ditandai dengan munculnya hadits yang pertama kali diriwayatkan dari Rasulullah Saw, yaitu hadits permulaan wahyu.

Dari sinilah ilmu hadits riw‚yah mulai dikenal, lalu berkembang seiring dengan proses transmisi yang berkesinambungan. Adapun ilmu hadÓts dir‚yah juga sudah mulai muncul sejak masa-masa awal proses transmisi. Hal yang demikian itu adalah sebuah keniscayaan, karena sebuah proses transmisi tidak akan berjalan dengan solid tanpa diiringi proses otentifikasi. Dan proses otentifikasi inilah yang membidani lahirnya ilmu hadÓts dir‚yah dengan berbagai cabangnya. Kemudian dari kedua kelompok ilmu hadits ini, kita akan mencoba untuk mengenal lebih jauh turats hadits dan sejarah perkembangannya dari masa ke masa.

Dalam tulisan ini, saya akan mencoba untuk menguraikan sedikit tentang ilmu hadits dan sejarah perkembangannya, sebagai sebuah pengantar untuk mengenal lebih dalam turats hadits yang telah menghiasi khasanah keilmuan Islam. Pembahasan dalam tulisan ini akan saya bagi menjadi dua bagian, yang pertama mengenai sejarah dan perkembangan ilmu hadits pra kodifikasi, dan yang kedua mengenai sejarah dan perkembangan ilmu hadits paska kodifikasi.


Sejarah dan Perkembangan Ilmu Hadits Pra Kodifikasi


1. Ilmu HadÓts Riw‚yah Pra Kodifikasi

Masa pra kodifikasi hadits dimulai dari sejak munculnya hadits pertama yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw, sampai turunnya perintah resmi dari khalifah Umar ibn Abdul Aziz kepada para ulama untuk melakukan kodifikasi hadits. Dengan demikian, rentang waktu yang dilalui masa pra kodifikasi ini mencakup dua periode penting dalam sejarah transmisi hadits, yaitu periode kenabian dan periode Sahabat. Pada dua periode ini metode transmisi yang digunakan kebanyakan adalah metode lisan. Meskipun demikian, tidak sedikit juga para Sahabat yang melakukan pencatatan hadits secara personal, dan itu mendapatkan izin dari Rasulullah Saw.

Benar pada permulaan turunnya wahyu, Rasulullah Saw pernah melarang para sahabat untuk mencatat selain al-Quran. Akan tetapi larangan tersebut bukanlah larangan yang bersifat mutlak, atau larangan tersebut merupakan larangan yang bersifat sementara, sampai para Sahabat benar-benar dapat membedakan antara al-Quran dan yang lainnya. Hal itu terbukti dengan adanya beberapa Sahabat yang mendapatkan izin dari beliau untuk melakukan pencatatan hadits, seperti Abdullah bin Amr ra, Rafi' bin Khadij ra, Abu Syah dan yang lainnya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada masa pra kodifikasi ini sebagian besar hadits telah ditransmisikan melalui lisan dan hafalan. Namun hal ini sama sekali tidak mengurangi tingkat keotentikan hadits-hadits tersebut. Karena para Sahabat yang menjadi agen transmiter dalam hal ini, disamping sosok mereka yang sangat loyal terhadap Rasul Saw dan terpercaya, mereka juga dikaruniai hafalan yang kuat, sehingga dengan itu, kemampuan mereka untuk mentransmisikan hadits dari Rasulullah Saw secara akurat tidak diragukan lagi. Selain itu, metode lisan ini juga tidak menafikan adanya sejumlah Sahabat yang telah mentransmisikan hadits melalui catatan-catatan yang mereka buat. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya bebrerapa shahifah yang pernah ditulis pada rentang masa tersebut.Berikut ini adalah beberapa nama shahifah yang dimaksud:

  • ShahÓfah al-Shadiqah, ditulis oleh Abdullah bin Amr ra.
  • ShahÓfah Jabir bin Abdullah ra.
  • ShahÓfah Ali bin Abi Thalib ra.
  • ShahÓfah Hammam bin Munabbih, ditulis oleh Hammam dari riwayat Abu Hurairah ra.
  • ShahÓfah Samurah bin Jundub ra.
  • ShahÓfah Sa'd bin Ubadah† ra.

2. Ilmu Hadits Dir‚yah Pra Kodifikasi


Pada masa pra kodifikasi ini, sudah mulai muncul benih-benih yang akan menjadi titik tolak berkembangnya ilmu hadÓts dir‚yah. Hal itu dapat dilihat dari sikap para Sahabat yang sangat teliti dan hati-hati dalam meriwayatkan hadits. Sikap tatsabbut yang diperlihatkan oleh para Sahabat tersebut merupakan titik awal dalam sejarah perkembangan ilmu hadÓts dir‚yah. Kemudian paska terjadinya fitnah, sikap yang demikian itu semakin nampak ke permukaan. Hal itu telah digambarkan oleh Ibnu Abbas ra. dengan jelas, dia berkata, "Jika kami mendengar ada seseorang berkata, "Rasulullah Saw bersabda", maka kami langsung mendatanginya, dan mendengarkan apa yang dikatakannya. Lalu ketika orang-orang sudah mulai melakukan apa saja, tanpa membedakan antara hal yang terpuji dan yang tercela (paska terjadinya fitnah), maka kami tidak mengambil (hadits) dari mereka, kecuali apa yang kami tahu (kebenarannya)".

Sikap tatsabbut yang dikembangkan oleh para Sahabat tersebut merupakan sebuah bentuk usaha otentifikasi hadits. Dan itu merupakan inti dari ilmu hadÓts dir‚yah itu sendiri. Karena ilmu hadÓts dir‚yah sebenarnya adalah bentuk aplikasi dari usaha otentifikasi yang dilakukan oleh para ulama.

Sejarah dan Perkembangan Ilmu Hadits Paska Kodifikasi

1. Ilmu HadÓts Riw‚yah Paska Kodifikasi

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (101 H.) merupakan aktor penting dalam sejarah kodifikasi hadits. Beliaulah orang yang pertama kali menyerukan secara resmi kepada semua ulama untuk mengumpulkan hadits-hadits yang masih terpencar dan mencatatnya dalam sebuah buku. Salah satu ulama yang beliau minta untuk melakukan hal itu adalah Ibnu Syihab al-Zuhri (125 H.) Kemudian setelah era al-Zuhri, gerakan kodifikasi terus mengalami perkembangan, sampai akhirnya mencapai masa keemasan pada abad ketiga Hijriyah. Perlu diketahui bahwa dalam melakukan kodifikasi tersebut, para ulama tidaklah menempuh satu metode saja. Hal itu dapat kita ketahui melalui hasil-hasil karya mereka yang beragam selama kurun waktu paska kodifikasi tersebut. Masa awal kodifikasi banyak dari mereka yang menggunakan metode mushannaf‚t, kemudian setelah itu muncul penulisan dengan metode mas‚nid, lalu jaw‚mi' dan sunan, hingga abad keempat hijriyah muncul metode mustadrak‚t dan ma'‚jim.

Berikut ini adalah beberapa karya besar para ulama paska kodifikasi, dari sejak awal masa kodifikasi, sampai pada abad keempat Hijriyah.
Karya-karya ulama pada abad kedua Hijriyah:
  • al-Sunan, karya Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij (150 H)
  • al-Sunan, karya Muhammad bin Ishaq bin Yasar (151 H)
  • al-Jami', karya Ma'mar bin Rasyid (153 H)
  • al-Muwatha', karya Ibnu Abi Dzi'b (156 H)
  • al-Sunan, Ibnu Abi Arubah (157 H)
  • al-Muwatha', karya Malik bin Anas (179 H)
  • al-Zuhd, karya Abdullah ibnul Mubarak (181 H)
Dan masih banyak lagi, baik karya-karya yang sampai kepada kita atau pun yang tidak.

Karya-karya ulama pada abad ketiga Hijriyah:
  • Musnad Abu Dawud al-Thayalisi (204 H)
  • Mushannaf Abdurrazaq, karya Abdurrazaq ibn Hammam (211 H)
  • Musnad al-Humaidi (219 H)
  • al-Sunan, karya Sa'id ibn Manshur (227 H)
  • Mushannaf Ibnu Abi Syaibah (235 H)
  • Kutubuttis'ah minus al-Muwatha' Malik
  • Musnad Ishaq bin Rahuyah (238 H), dan yang lainnya.

Karya-karya Ulama abad keempat Hijriyah:
  • Shahih Ibnu Hibban (354 H)
  • Ma'ajim, al-Shaghir, al-Wasth dan al-Kabir, semuanya karya al-Thabrani (360 H)
  • Sunan ad-Daruquthni (385 H)
  • Mustadrak al-Hakim (405 H), dan yang lainnya

2. Ilmu HadÓts Dir‚yah Paska Kodifikasi

Ilmu hadÓts dir‚yah pada masa paska kodifikasi ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, seiring dengan berkembangnya ilmu hadÓts riw‚yah. Pada awal masa kodifikasi, ilmu ini diperkenalkan oleh para ulama secara tercampur dalam karya-karya mereka yang mempunyai kosentrasi lain, seperti ilmu riw‚yah dan disiplin ilmu lainnya. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Imam asy-Syafi'i dalam kitabnya ar-Risalah, kemudian Imam Muslim dalam Muqaddimah shahih-nya, dan juga Imam at-Tirmidzi dalam kitab ilal-nya. Baru kemudian pada abad keempat hijriyah datang Imam ar-Ramahurmuzi (360 H) yang membuat sebuah karya terpisah dalam kosentrasi ilmu dir‚yah. Kitabnya yang berjudul al-Muhaddits al-F‚shil Bainar R‚wÓ Wal W‚'Ó merupakan kitab yang pertama kali ditulis secara terpisah dalam ilmu hadÓts dir‚yah. Kemudian setelah itu, satu persatu ulama mulai mulakukan kodifikasi secara terpisah terhadap ilmu hadÓts dir‚yah. Berikut ini adalah jadwal karya-karya ulama dalam disiplin ilmu ini,

Karya-karya pra Ibnu Shalah,
  • al-Muhaddits al-F‚shil Bainar R‚wÓ Wal W‚'Ó, karya ar-Ramahurmuzi (360 H)
  • Ma'rifatu UlŻmil HadÓts, karya al-Hakim (405 H)
  • al-Kif‚yah Fi Ilmir Riw‚yah, karya al-Khathib al-Baghdadi (463 H)

Karya-karya paska Ibnu Shalah,
  • Ma'rifatu Anw‚'i Ilmil HadÓts, karya Ibnu Shalah (643 H)
  • al-Iqtirah Fi Bay‚nil Ishthil‚h, karya Ibnu Daqiq al-Id (702 H)
  • al-MŻqizhah, karya adz-Dzahabi (748 H)
  • Ikhtish‚r UlŻmil HadÓts, karya Ibnu Katsir (774 H)
  • at-TaqyÓd Wal Idhah, karya al-Iraqi (806 H)
  • Nuzhatun Nazhar, karya Ibnu Hajar (852 H)
  • Fathul MughÓts Syarhu Alfiyatil HadÓts, karya as-Sakhawi (902 H)
  • TadrÓbur R‚wÓ, karya as-Suyuthi (911 H)
  • TaudhÓhul Afkar Li Ma'ani TanqÓhul Atsar, karya ash-Shan'ani (1182 H), dan yang lainnya.

Penutup

Demikianlah makalah ini saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat, dan memberikan gambaran singkat kepada kita tentang turats ilmu hadits. Adapun apa yang saya sampaikan ini tentu banyak kekurangannya, karena hanya sebatas apa yang saya ketahui. Dan khusus mengenai† pembahasan ilmu dir‚yah, saya senganja hanya membahas salah satu cabangnya saja, yaitu ilmu mushthalah, hal itu karena cabang-cabang yang lainnya membutuhkan pembahasan tersendiri, sehingga tidak mungkin untuk dijelaskan dalam satu makalah sekaligus. Wallahu a'lam bish shawab.

(Sumber: http://www.mediamuslim.net)
Penulis Zainul Abidin, Lc. adalah kandidat Master Universitas al-Azhar Jurusan Hadits