Warning: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead in /home/mjhdnet/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead in /home/mjhdnet/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56

Warning: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead in /home/mjhdnet/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198

Warning: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Krasnoyarsk' for 'WIB/7.0/no DST' instead in /home/mjhdnet/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198

Waspadalah Terhadap Setan Dalam Hal Agamamu

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

DARI tanggal 5 sampai 7 Zulhijah (2-4 Maret), Rasulullah saw. melakukan kegiatan-kegiatan: memimpin salat di Masjid al-Haram, melakukan tawaf sunat, dan salat sunat di Hijir Isma`il. Meskipun beliau dalam keadaan berihram, beliau menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah tempat lahir beliau di Suq al-Layl dan berziarah ke kuburan istri yang paling beliau cintai, Khadijah al-Kubra, yang terletak di Ma'la. Beliau juga menghapuskan kebiasaan aneh pada masa Jahiliyah: orang yang berihram tidak boleh masuk rumah dari pintu, tetapi harus membuat lubang di belakang rumah atau ma­suk lewat atap! Tradisi yang entah dari mana asalnya ini dilarang oleh Nabi berdasarkan perintah Allah dalam Al-Baqarah 189.

Pada Kamis 8 Zulhijah (5 Maret), Rasulullah saw. memerintahkan umat beliau yang memakai cara Tamattu` kembali mengenakan pakaian ihram dan menjauhi larangan-larangan ihram untuk memulai ibadah haji. Mereka yang memakai cara Ifrad atau Qiran, termasuk beliau sendiri, memang sudah dalam keadaan berihram sebab sesudah tawaf dan sa`i mereka tidak bertahallul. Manasik haji yang beliau terapkan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sangat perlu kita cermati sebab manasik ini merupakan "sistem baru" yang berbeda dengan "sistem lama" (cara Jahiliyah), berdasarkan aturan Ilahi dalam Al-Baqarah 196-203 yang diwahyukan tahun 6 Hijriah dan baru sempat diterapkan pada ibadah haji Rasulullah saw. tahun 10 Hijriah.

Pada tanggal 8 Zulhijah pagi, Rasulullah saw. beserta jemaah haji pergi menuju Mina untuk mempersiapkan air sebab mulai tanggal 10 Zulhijah sesudah pulang dari Arafah mereka akan tinggal di Mina selama beberapa hari. Itulah sebabnya tanggal 8 Zulhijah disebut Hari Tarwiyah (tarwiyah artinya 'mempersiapkan air'). Di zaman modern sekarang, meskipun air di Mina sudah berlimpah sehingga para jemaah tidak perlu tarwiyah atau mempersiapkan air, sebagian besar ulama tetap berpendapat bahwa pergi ke Mina tanggal 8 Zulhijah merupakan salah satu sunnah haji. Paling tidak, hal itu perlu dilakukan untuk "napak tilas" perjalanan Nabi.

Namun, perlu dipertimbangkan bahwa sekarang pemerintah Arab Saudi terus-menerus membongkar rumah-rumah di Mina agar kapasitas Mina tetap memadai dalam menampung jemaah haji yang jumlahnya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Akibatnya, berlaku hukum ekonomi: ongkos sewa rumah di Mina semakin mahal sehingga jemaah haji yang ingin singgah di Mina tanggal 8 Zulhijah harus mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar.

Pada hari Jumat, 9 Zulhijah (6 Maret) sesudah matahari terbit, Rasulullah saw. dan seluruh jemaah haji berangkat menuju Arafah. Ketika melewati Muzdalifah, kaum Quraisy berharap agar Rasulullah berhenti sebab selama ini kaum Quraisy selalu berwukuf di Masy`ar al-Haram (Muzdalifah), sedangkan yang berwukuf di Arafah adalah mereka yang bukan suku Quraisy. Oleh karena itu, Rasulullah memerintahkan agar seluruh jemaah haji tanpa kecuali kembali kepada syariat Ibrahim untuk berwukuf di Arafah, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Baqarah 199: Afidhu min haitsu afadha n-nas (Membanjirlah kamu dari tempat membanjirnya manusia).

Sebelum masuk Arafah, Rasulullah saw. singgah di Namirah dan ketika masuk waktu zuhur (matahari tergelincir ke barat) beliau pergi ke tengah Padang Arafah untuk berkhotbah sebagai tanda dimulainya acara wukuf. Rasulullah menghentikan unta beliau, Al-Qashwa', di suatu tempat yang ketinggian. Di samping beliau berdiri Rabi`ah ibn Umayyah yang mempunyai suara keras dan lantang. Ia ditugasi untuk menyambung suara Nabi agar jelas terdengar oleh puluhan ribu jemaah yang hadir. Sesudah Rasulullah mengucapkan tahmid dan takbir, memuji dan membesarkan nama Allah, beliau memberikan khotbah yang isinya antara lain sebagai berikut:

"Wahai manusia (Ayyuha n-nas), dengarkanlah kata-kataku agar aku terangkan kepadamu. Sesungguhnya aku tidak tahu apakah aku masih akan bertemu dengan kamu di tempat wukuf ini sesudah tahun ini. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kamu darah sesamamu dan harta sesamamu sampai kamu berjumpa dengan Tuhanmu, seperti haramnya hari ini dan bulan ini. Sesungguhnya kamu pasti akan berjumpa dengan Tuhanmu dan Dia pasti akan menanyai kamu tentang segala perbuatanmu.

Wahai manusia, seseorang yang mempunyai hutang hendaklah mengembalikan hutang itu kepada orang yang telah mempercayainya. Segala jenis riba dihapuskan, dan kamu boleh memiliki kembali modalmu. Janganlah berbuat zalim dan kamu tidak akan dizalimi. Allah telah memutuskan bahwa tidak boleh ada riba lagi, dan riba yang pertama kuhapuskan adalah riba dari Abbas ibn Abdil-Muttalib seluruhnya. Semua pertumpahan darah di masa jahiliyah harus ditinggalkan tanpa balas dendam. Hutang darah yang pertama kuhapuskan adalah darah Rabi`ah ibn Harits ibn Abdil-Muttalib yang dibunuh oleh Hudzail.

Wahai manusia, sesungguhnya setan telah putus asa untuk terus disembah-sembah di negerimu ini. Akan tetapi, dia akan puas dengan ditaati dalam hal-hal selain itu, yaitu perbuatan-perbuatan yang kamu sebenarnya tahu bahwa itu salah, tetapi tetap kamu perbuat. Maka, waspadalah terhadap setan dalam hal agamamu. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istri-istrimu dan mereka pun mempunyai hak terhadapmu. Bertakwalah kamu kepada Allah dalam memperlakukan istri-istrimu sebab kamu telah mengambil mereka dengan amanat Allah.

Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan bagi kamu sesuatu, yang jika kamu berpegang teguh kepadanya pasti kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu sesuatu yang terang dan nyata: Kitab Allah dan Sunah Nabi-Nya. Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, dan tidaklah halal seseorang mengambil milik saudaranya kecuali dia memberikan dengan rela. Sesungguhnya Tuhanmu cuma satu, dan sungguh ayah kamu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, sedangkan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling takwa. Tidak ada keutamaan orang Arab dari orang bukan Arab melainkan lantaran takwa."

Di akhir khotbah beliau, Rasulullah saw. bertanya kepada puluhan ribu umat yang hadir, "Wahai manusia, apakah aku telah menyampaikan?" Jemaah haji serempak menjawab, "Benar, telah engkau sampaikan." Maka Rasulullah mengacungkan tangan beliau ke langit sambil berseru, "Wahai Allah, saksikanlah! Wahai Allah, saksikanlah!" Kemudian Rasulullah menutup khotbah beliau dengan bersabda, "Maka hendaklah yang telah menyaksikan daripadamu menyampaikan kepada yang tidak hadir. Semoga siapa yang menyampaikan akan lebih dalam memperhatikannya daripada yang sekadar mendengarkan. Mudah-mudahan berlimpahlah rahmat dan berkat Allah kepada kamu sekalian."

Selesai berkhotbah, Rasulullah saw. turun dari unta, lalu memimpin salat zuhur dan asar secara jama` dan qasar. Kemudian beliau menuju Sakhrat, batu karang di kaki bukit Jabal Rahmah. Di sini Rasulullah saw. menerima wahyu Al-Ma'idah 3: Al-yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu `alaykum ni`mati wa radhitu lakumu l-islama dina (Hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku lengkapkan untukmu nikmat-Ku dan Aku relakan bagimu Islam sebagai agamamu).

Ketika Rasulullah saw. menyampaikan wahyu yang baru beliau terima kepada para sahabat, Abu Bakar Shiddiq menangis tersedu-sedu. Umar ibn Khattab bertanya, "Apa yang kau tangiskan, wahai Abu Bakar? Bukankah kita seharusnya bergembira bahwa agama kita telah sempurna?" Abu Bakar menjawab, "Tidakkah terpikir olehmu, wahai anak Khattab, hal itu merupakan isyarat bahwa Rasulullah mungkin cuma sebentar lagi bersama-sama dengan kita."

Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk tidak menyia-nyiakan waktu wukuf. "Haji itu di Arafah," sabda beliau. Sambil menghadap kiblat, Rasulullah dan para sahabat memuji dan mengagungkan Allah, berzikir, berdoa, memohon ampun, membaca ayat-ayat Quran, dan memperbanyak talbiyah.

Setelah matahari terbenam, Rasulullah saw. mengajak para jemaah haji untuk berangkat menuju Muzdalifah (Masy`ar al-Haram), sesuai dengan firman Allah dalam Al-Baqarah 198: Fa idza afadhtum min `arafatin fa dzkuru l-Laha `inda l-masy`ari l-haram (Maka ketika kamu membanjir dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`ar al-Haram). Rasulullah saw. mengajak Usamah ibn Zaid untuk duduk di punggung unta Al-Qashwa'. Di zaman jahiliyah sudah menjadi kebiasaan untuk secepat mungkin meninggalkan Arafah dengan setengah berlari maka Rasulullah melarang cara yang tergopoh-gopoh ini. "Tenang, tenang, sebagaimana tenangnya jiwa. Hendaklah yang kuat di antaramu membantu dan mengawasi yang lemah," demikian sabda beliau.

Sesampai di Muzdalifah, Rasulullah saw. dan rombongan menunaikan salat magrib dan isya secara jama` dan qasar. Rasulullah dan sebagian besar jemaah haji bermalam di Muzdalifah, tetapi beliau mengizinkan orang-orang yang lemah, wanita, dan anak-anak berangkat ke Mina sesudah tengah malam supaya dapat melontar jumrah sebelum massa membanjir datang. Sawdah, istri Nabi yang paling gemuk, memohon izin untuk pergi ke Mina malam itu juga sebab tubuhnya tidak kuat berdesak-desakan. Rasulullah mengizinkan dan mengirimkan Sawdah bersama Ummu Sulaim dengan ditemani oleh sepupu Rasul yang masih remaja, Abdullah ibn Abbas ibn Abdil-Muttalib. Di kemudian hari, Abdullah ibn Abbas ini (nama populernya Ibnu Abbas) menjadi salah seorang perawi hadis yang termasyhur.

Sesudah salat subuh di Muzdalifah, Rasulullah saw. memimpin jemaah haji menuju Mina. Kini yang beliau ajak membonceng di punggung Al-Qashwa' adalah sepupu beliau Fadhil ibn Abbas (kakaknya Abdullah). Ketika melewati lembah Muhassir, Rasulullah menyuruh para jemaah haji mempercepat langkah seraya bersabda, "Bersegeralah melewati Muhassir sebab di lembah ini ashhabu l-fil (pasukan gajah) Abrahah dimusnahkan burung Ababil."

Pada hari Sabtu, 10 Zulhijah (7 Maret), pagi hari Rasulullah saw. sampai di Mina. Beliau tidak mampir di Jumrah Ula dan Jumrah Wustha, melainkan langsung menuju Jumrah Aqabah. Tepat sebelas tahun sebelumnya, pada musim haji tahun 621 (setahun sebelum Hijrah) di bukit Aqabah, persis di atas jumrah, Rasulullah saw. menerima ikrar sumpah setia dari para wakil masyarakat Anshar (suku Aws dan Khazraj) yang mengundang beliau untuk berhijrah ke kota mereka, Yatsrib atau Madinah.

Berbeda dengan Jumrah Ula dan Jumrah Wustha yang terletak di lapangan terbuka, Jumrah Aqabah terletak di kaki bukit. Itulah sebabnya penampung batu lontaran di Jumrah Ula dan Jumrah Wustha berbentuk lingkaran, sedangkan di Jumrah Aqabah cuma setengah lingkaran karena terhalang cadas bukit. Di kemudian hari, meskipun bukit Aqabah sudah dipapas rata dengan tanah, umat Islam "tidak berani" menjadikan penampung batu lontaran di Jumrah Aqabah sebagai lingkaran penuh seperti dua jumrah yang lain, mungkin karena takut dianggap bid`ah. Sampai sekarang, Jumrah Aqabah dibiarkan tetap dikelilingi setengah lingkaran.

Pada tanggal 10 Zulhijah itu Rasulullah saw. melakukan berbagai manasik dengan urutan sebagai berikut: Rasulullah melontar Jumrah Aqabah dengan batu kerikil sebanyak tujuh kali, dan beliau bertakbir pada setiap lontaran. Inilah perlambang usaha penolakan secara maksimal terhadap godaan setan. Sesudah melontar beliau berdoa, Allahuma j`alhu hajjan mabruran wa sa`yan masykuran wa dzanban maghfuran (Ya Allah, jadikanlah manasik ini membuahkan haji yang bermutu, usaha yang diterima, dan dosa yang terampuni). Kemudian Rasulullah menyembelih hadyu sebanyak 63 ekor unta dengan tangan beliau sendiri, lalu sisanya yang 37 ekor disembelih oleh Ali ibn Abi Thalib. Sesudah itu Rasulullah saw. melakukan tahallul dengan menyuruh Khirasy, yang mencukur beliau ketika umrah tahun 7 Hijriah, untuk mencukur kepala beliau. Yang mengharukan adalah ketika Rasul dicukur Khalid ibn Walid dan Suhail ibn Amr memunguti rambut-rambut beliau yang jatuh, lalu mengusapkan rambut-rambut itu ke muka mereka sambil menangis karena menyesali perbuatan mereka sebelum masuk Islam.

Selanjutnya, Rasulullah saw. pergi ke Makkah untuk melakukan tawaf mengelilingi Kakbah. Setelah salat zuhur, beliau kembali ke Mina. Oleh karena itu, Rasulullah mengambil cara Haji Qiran (haji dan umrah digabungkan), tanggal 10 Zulhijah itu beliau tidak melakukan sa`i di antara Safa dan Marwah. Sa`i beliau cukup satu kali tanggal 4 Zulhijah yang sudah mencakup sa`i haji dan umrah. Akan tetapi, sebagian besar para sahabat melakukan sa`i tanggal 10 Zulhijah atau sesudahnya karena mereka mengambil cara Haji Tamattu` sesuai perintah Rasul. Inilah sa`i haji bagi para sahabat yang Tamattu` sebab sa`i mereka tanggal 4 Zulhijah adalah sa`i umrah saja dan belum sa`i haji.

Rasulullah saw. memberikan kelonggaran pada jemaah haji untuk melakukan manasik-manasik di atas dengan urutan yang berbeda-beda. Melontar jumrah, menyembelih hadyu, mencukur atau menggunting rambut, serta tawaf dan sa`i boleh dilakukan secara acak, tidak usah berurutan. Para jemaah haji boleh mendahulukan mana yang sempat dikerjakan. Bahkan, manasik-manasik di atas tidak harus semuanya terlaksana pada Hari Nahar (10 Zulhijah). Penyembelihan hadyu boleh dilakukan pada Hari-Hari Tasyriq (11-13 Zulhijah). Tawaf dan sa`i boleh dilakukan pada Hari-Hari Tasyriq, bahkan boleh dilakukan sesudah jemaah pulang dari Mina asalkan masih dalam bulan Zulhijah. Juga boleh dilakukan urutan seperti ini: dari Muzdalifah jemaah haji langsung ke Makkah melakukan tawaf dan sa`i, lalu tahallul mencukur atau menggunting rambut di Marwah, kemudian baru ke Mina untuk melontar jumrah atau menyembelih hadyu. "Kerjakan saja, tidak apa-apa." If`al, la haraj, demikianlah selalu jawaban Rasulullah saw. ketika beliau ditanya oleh para jemaah mengenai urutan manasik-manasik di atas.

Apa pun urutan manasik yang dipilih oleh jemaah haji, Rasulullah saw. menginstruksikan jemaah haji untuk menginap di Mina pada malam-malam Hari Tasyriq, kecuali mereka yang karena kesibukannya tidak dapat menginap. Rasulullah mengizinkan paman beliau, Abbas ibn Abdil-Muttalib, bermalam di Makkah untuk mengelola siqayah (air Zamzam untuk jemaah haji). Demikian pula para gembala yang harus menjaga ternak mereka di malam hari diberi izin oleh Rasul untuk tidak menginap di Mina.

Pada tanggal 11 dan 12 Zulhijah, sesudah masuk waktu zuhur, Rasulullah saw. dan para jemaah haji melontar secara berturut-turut Jumrah Ula, Jumrah Wustha, dan akhirnya Jumrah Aqabah, masing-masing tujuh lontaran. Beliau berdoa sesudah melontar Jumrah Ula dan Jumrah Wustha, tetapi segera pergi setelah melontar Jumrah Aqabah. Rasulullah memberikan kelonggaran bagi yang tidak sempat melontar pada siang hari untuk melakukannya di malam hari. Juga bagi orang yang sakit, lanjut usia, lemah, atau wanita hamil, pelontaran boleh diwakilkan kepada orang lain.

Di masa jahiliyah kaum musyrikin Quraisy menggunakan waktu luang di Mina untuk saling membanggakan silsilah keturunan dan kehebatan nenek moyang masing-masing. Rasulullah saw. melarang kebiasaan takabur ini dan menggantinya dengan zikir kepada Allah semata, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Baqarah 200: Fa idza qadhaitum manasikakum fa dzkuru l-Laha ka dzikrikum aba'akum aw asyadda dzikra (Maka ketika kamu telah menunaikan manasikmu, berzikirlah kepada Allah seperti menzikiri bapak-bapakmu, bahkan harus lebih hebat zikirnya).

Rasulullah saw. juga menerapkan kebolehan dari Allah bagi jemaah haji untuk memilih dua hari atau tiga hari dalam melontar tiga jumrah, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Baqarah 203: Fa man ta`ajjala fi yaumaini fa la itsma `alayhi wa man ta'akhkhara fa la itsma `alayhi, li mani ttaqa (Barangsiapa yang bergegas dalam dua hari maka tiada dosa baginya dan barangsiapa yang belakangan juga tiada dosa baginya, yang penting mereka takwa).

Jadi pada tanggal 12 Zulhijah sore hari jemaah haji boleh melakukan nafar awwal (pulang duluan) meninggalkan Mina pulang ke Makkah. Mereka yang ingin nafar awwal harus sudah berada di luar Mina sebelum magrib. Jika saat maghrib masih di Mina, mereka harus mengambil nafar tsani (pulang rombongan kedua), yaitu harus bermalam di Mina dan melontar lagi tiga jumrah tanggal 13 Zulhijah, baru pulang ke Makkah. Sebagian sahabat memilih nafar awwal dan sebagian lagi memilih nafar tsani. Adapun Rasulullah saw. melakukan nafar tsani, pulang ke Makkah tanggal 13 Zulhijah.

Pada malam 14 Zulhijah, Rasulullah saw. menyuruh istri beliau, Aisyah, yang selesai masa haidnya untuk menunaikan umrah. "Inilah pengganti umrahmu yang gagal," sabda beliau. Aisyah kembali berihram dari Tan`im dengan ditemani adiknya, Abdurrahman ibn Abi Bakar, lalu mereka berdua melakukan tawaf dan sa`i sehingga ber-tahallul di Marwah. Pengalaman Aisyah yang melakukan Haji Ifrad (haji dulu, baru umrah) dijadikan dasar oleh para ulama di kemudian hari untuk membolehkan Haji Ifrad bagi yang bukan penduduk Makkah dan tidak membawa hadyu. Juga pengalaman Abdurrahman ibn Abi Bakar yang berumrah lagi dijadikan dasar untuk membolehkan umrah sunah di musim haji dengan berihram dari Tan`im. Akan tetapi, ada juga para ulama yang berpendapat bahwa jemaah yang tidak membawa hadyu harus melakukan Haji Tamattu` sesuai perintah Rasul (Aisyah melakukan Ifrad lantaran haid) serta umrah sunah di musim haji tidak dicontohkan Rasul dan para sahabat (umrahnya Abdurrahman lantaran menemani kakaknya). Wallahualam.

Sesudah salat subuh hari Rabu 14 Zulhijah (11 Maret), Rasulullah saw. dengan istri-istri beliau, kecuali Safiyah yang mengalami haid dua hari sebelumnya melakukan tawaf wada (tawaf perpisahan), lalu mereka kembali ke Madinah. Rasulullah tidak dapat berada lama-lama di Makkah sebab pekerjaan beliau selaku Kepala Negara harus segera beliau rampungkan. Tiga bulan sesudah itu, pada hari Senin tanggal 12 Rabiulawal 11 Hijriah (8 Juni 632), Rasulullah saw. berpulang ke Rahmatullah. Sesungguhnya kita milik Allah dan sungguh kepada-Nya kita akan kembali.

Demikianlah kisah ibadah haji dari Nabi Ibrahim a.s. sampai Nabi Muhammad saw. Marilah kita menunaikan ibadah haji yang merupakan salah satu Rukun Islam. Di samping untuk melaksanakan perintah Allah, ibadah haji juga sangat banyak manfaatnya bagi kita, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Hajj 28: li yasyhadu manafi`a lahum (agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka). Rasa nikmat menunaikan ibadah haji sungguh luar biasa dan tidak dapat diceritakan, melainkan hanya dapat dirasakan sendiri.

(Bagian 4: Disadur dari tulisan Sdr. Irfan Anshori pada terbitan Pikiran Rakyat, empat hari berturut-turut dari 26 hingga 29-Agustus-2002 dengan judul asli Ibadah Haji Sepanjang Zaman).